KALBAR SATU ID — Menghadapi gempuran modernitas dan derasnya arus disrupsi global, Kabupaten Sambas mengambil langkah taktis yang masif dan visioner. Bertempat di Aula BAPPERIDA Kabupaten Sambas, sebuah Forum Group Discussion (FGD) digelar pada 23 Oktober 2026 lalu, mempertemukan kekuatan strategis antara pemerintah daerah dan para begawan akademisi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak.
Mengusung tema Model Pemajuan Kebudayaan Berbasis Ekonomi Kerakyatan: Integrasi Warisan Sejarah, Seni Religi, Ekonomi Kreatif, dan Pariwisata Kabupaten Sambas, forum ini menjadi titik balik penyusunan cetak biru (blueprint) kebudayaan daerah yang lebih kokoh, terintegrasi, dan berdaya saing global.
Tak tanggung-tanggung, IAIN Pontianak menurunkan skuad mautnya langsung ke jantung Sambas. Tim peneliti elit ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Erwin, M. Ag (Guru Besar Sejarah Pendidikan Islam), Prof. Dr. H. Zaenuddin, MA (Guru Besar Studi Agama dan Budaya) dan. Turut memperkuat barisan riset adalah Dr. Wulan Purnamasari, M. Ec. Dev (pakar ekonomi Islam dan pembangunan) serta Didi Darmadi, S.Pd.I, M.Lett, M.Pd (dosen PAI berbasis Islam & Budaya Borneo sekaligus Sekretaris LPPM IAIN Pontianak).
FGD produktif ini turut dihadiri oleh Kepala Bidang Riset dan Inovasi BAPPERIDA Kabupaten Sambas bapak Irwanda, SKM, Dedy Zulkarnain, S.Sos Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disporapar) beserta jajarannya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, para tokoh budaya kharismatik, perwakilan Ormas, mahasiswa, hingga barisan Gen Z volunteer budaya.
Dalam sesi pemaparan inti, Prof. Dr. Erwin, M. Ag membunyikan alarm penting bagi masa depan kebudayaan Sambas. Ia secara blak-blakan menyoroti bahwa potensi budaya daerah selama ini masih berjalan sendiri-sendiri alias parsial, belum terintegrasi secara holistik dalam kerangka pentahelix.
“Dari segi pelestarian, pelaku, hingga sarana prasarana, kondisi budaya kita masih jauh dari yang diharapkan. Upaya pelestarian belum memadai jika dibandingkan dengan gempuran budaya luar. Dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) kita bahkan belum di-update sejak terakhir kali pada tahun 2020,” tegas Prof. Erwin.
Ia juga menekankan urgensi melahirkan policy brief yang merangkum identitas kultural Sambas-mulai dari arsitektur Tarup, etika lokal, kekayaan bahasa, hingga seni tradisi Ratib Saman.
Sebagai solusi tuntas, sang Guru Besar merekomendasikan tiga langkah harga mati: Pertama, Reakomodasi Kurikulum: Pewarisan budaya harus masuk secara sistematis ke dalam dunia pendidikan. Kedua, Kolaborasi Lintas Elemen: Penyelenggaraan iven daerah harus digarap bersama, lepas dari ego sektoral. Ketiga, Stand Global: Melahirkan festival terpadu berskala internasional yang didukung ekosistem serta fasilitas Taman Budaya yang memadai.
Kritik tajam turut disuarakan oleh Tokoh Budaya Sambas, Pak Juhendri. Ia mengingatkan bahwa pariwisata berbasis kebudayaan kerap kali bermata dua: di satu sisi mendongkrak ekonomi, namun di sisi lain berisiko merusak marwah kebudayaan itu sendiri jika tak dikelola dengan bijak.
“Peraturan Bupati (Perbup) mendesak untuk segera diterbitkan, sementara Perda yang ada perlu direvisi total. Selama ini kita terlalu mengandalkan masyarakat, sementara kehadiran pemerintah harus lebih nyata. Kebudayaan wajib masuk ke dalam ranah kurikulum pendidikan, mulai dari filosofi Besaprah hingga etika bertarup,” serunya penuh semangat, menuntut adanya sinkronisasi riil antara kebijakan birokrasi dan hukum adat masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Disporapar Sambas, Dedy Z, menyambut antusias peran BAPPERIDA sebagai rumah besar koordinasi lintas sektor.
“Sambas ini kaya raya tradisi budayanya. Pertanyaannya, kebudayaan kita mau dibawa ke mana? Melalui BAPPERIDA, dinas-dinas bisa berhimpun menyusun rancangan program pemajuan kebudayaan yang terstruktur. Kita akan tata ulang kawasan istana, berdayakan UMKM, hingga merancang paket tur religi dan budaya yang terpadu seperti event Haul,” ungkap Dedy.
Dukungan serupa datang dari Bu Aldini (Disporapar) dan Aswandi (dari UPT Museum Daerah Kabupaten Sambas). Mereka memastikan bahwa muatan lokal (Mulok) melalui silabus khusus terus didorong, ruang ekspresi bagi seniman diperluas, dan kehadiran sebuah Taman Budaya Sambas kini menjadi mimpi bersama yang mendesak untuk segera direalisasikan demi mengangkat ikon kebanggaan Bumi Serasi.
Sinergi erat antara BAPPERIDA Sambas dan IAIN Pontianak ini bukan sekadar pertemuan ilmiah di atas kertas, melainkan sebuah gerakan kultural kolosal. Riset ini diproyeksikan menjadi kompas strategis agar warisan leluhur tidak sekadar menjadi fosil sejarah, tetapi bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan yang tangguh, bermartabat, dan siap menyongsong masa depan.







