KALBAR SATU ID – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali menegaskan arah kebijakan tegas pemerintah dalam mempercepat pembangunan proyek hilirisasi nasional. Dalam Rapat Terbatas (Ratas) bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, Minggu (11/1/2026), Presiden menginstruksikan agar peletakan batu pertama (groundbreaking) enam proyek hilirisasi baru segera dilaksanakan pada awal bulan depan.
Enam proyek strategis tersebut memiliki total nilai investasi mencapai US$ 6 miliar atau setara Rp 101,05 triliun. Dari enam proyek yang dibahas, Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus dengan masuknya dua proyek bernilai besar di Kabupaten Mempawah.
Proyek tersebut meliputi pengembangan industri smelter aluminium dari alumina dengan nilai investasi US$ 2,4 miliar, serta pembangunan fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) dari bauksit senilai US$ 890 juta. Kehadiran proyek ini diharapkan menjadi pengungkit percepatan hilirisasi mineral, peningkatan nilai tambah sumber daya alam, serta pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Barat.
“Perkembangan rencana groundbreaking 6 titik baru proyek hilirisasi senilai US$ 6 miliar di awal Februari 2026,” tulis Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya, dalam unggahan akun instagram @sekretariat.kabinet, dikutip Senin (12/1/2026).
Ratas tersebut dihadiri oleh sejumlah menteri yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala Danantara Rosan Roeslani.
Selain membahas enam titik proyek hilirisasi, pertemuan tersebut juga membahas agenda terdekat di sektor energi yang akan dihadiri langsung oleh Presiden. Pemerintah menjadwalkan peresmian salah satu proyek kilang minyak terbesar di Indonesia yakni RDMP Balikpapan pada hari ini, Senin (12/1/2026).
“Rencana peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan pada esok hari, Senin, 12 Januari 2026,” pungkas Teddy.
Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengungkapkan 6 proyek strategis hilirisasi yang akan dibangun pada tahun ini. Rencananya proyek ini akan dibangun secara bertahap mulai Januari 2026 ini.
Pembangunan 6 proyek itu meliputi untuk pembangunan pengolahan bauksit, bioavtur, pabrik bioetanol, hingga fasilitas budidaya unggas.
“Bauksit, Refinery Alumunium di Mempawah yang saya ingat ya. Kemudian Refinery di Cilacap, kemudian di Banyuwangi. Pokoknya ada lima lah,” kata Rosan, di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (8/12/2026).
Rosan menjabarkan 6 proyek itu, antara lain:
1. Pengembangan Industri Smelter Aluminium dari Alumina, di Mempawah, Kalimantan Barat, senilai US$ 2,4 miliar
2. Fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) dari Bauksit, di Mempawah, Kalimantan Barat, senilai US$ 890 juta
3. Fasilitas produksi bioavtur di Cilacap, Jawa Tengah, Senilai US$ 1,1 miliar
4. Pengembangan fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi di Morowali, Sulawesi Tengah, senilai US$ 100 juta (sudah berjalan)
5. Pengembangan Fasilitas bioetanol, senilai US$ 80 juta
6. Serta 5 fasilitas budidaya unggas, dari 12 titik lokasi
Seperti diketahui pemerintah mencanangkan 18 proyek hilirisasi baru di tangan Danantara. Proyek itu terdiri dari pembangunan pabrik pengolahan komoditas mineral, kimia, hingga hasil perkebunan.
Di lain sisi, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, mengatakan setidaknya ada 6 proyek hilirisasi yang akan diresmikan pembangunannya pada bulan ini. Bertahap hingga 18 proyek hingga Februari dan Maret mendatang.
Proyek termasuk dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG).
“Rencananya akan ada di bulan Januari, ada enam groundbreaking dari program hilirisasi,” kata Prasetyo, di sela-sela Retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa barat, Selasa (6/12/2026).






