KALBAR SATU, PONTIANAK — Mantan Gubernur Kalimantan Barat periode 2018–2023, Sutarmidji, membagikan pengalamannya mengenai pengelolaan lahan gambut produktif tanpa melalui pembakaran. Ia menyebut kawasan Pontianak Utara, khususnya Siantan dan Terminal Agribisnis, sebagai contoh nyata pemanfaatan lahan gambut yang tetap produktif sekaligus minim risiko kebakaran.
Hal tersebut disampaikan Sutarmidji melalui akun Instagram pribadinya @bang.midji. Dalam unggahannya, ia menceritakan pengalamannya ketika menerima kunjungan sebuah organisasi nonpemerintah atau Non-Governmental Organization (NGO) yang didampingi konsultan dari Korea.
Tim tersebut, kata Sutarmidji, datang untuk memperkenalkan metode pemanfaatan lahan gambut tanpa membakar. Setelah mempelajari konsep yang mereka tawarkan, Sutarmidji justru menyarankan agar tim tersebut melihat langsung praktik pemanfaatan lahan gambut yang dilakukan masyarakat di Pontianak Utara atau Siantan.
“Terminal Agribisnis ini kurang lebih 800 hektare, seluruh lahannya gambut dan relatif tebal,” tulis Sutarmidji dalam unggahannya.
Menurut dia, kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu sentra produksi sayuran utama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Pontianak, bahkan memasok sejumlah kabupaten lainnya.
Selain sayuran, lahan gambut di kawasan Siantan juga dimanfaatkan untuk berbagai komoditas unggulan. Di antaranya lidah buaya dengan pelepah yang disebut dapat mencapai berat sekitar 2,5 kilogram, pepaya berukuran kecil yang dikenal luas, serta tanaman anggrek.
Sutarmidji menilai aktivitas pertanian masyarakat di kawasan tersebut menjadi bukti bahwa lahan gambut dapat dimanfaatkan secara produktif tanpa harus melakukan pembakaran.
“Semua di lahan gambut, tidak ada pembakaran dan tidak terjadi kebakaran lahan tapi tetap produktif,” tulisnya.
Ia menyebut, apabila terjadi kebakaran di sekitar kawasan tersebut, lokasi yang terdampak umumnya berada di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan Bukit Rel.
Setelah melihat secara langsung praktik pertanian masyarakat di Siantan, Sutarmidji mengatakan tim NGO tersebut tidak lagi mempresentasikan konsep yang sebelumnya hendak mereka tawarkan. Sebaliknya, mereka justru menyampaikan apresiasi karena memperoleh pengalaman langsung dari masyarakat setempat.
Menurut Sutarmidji, pengalaman pengelolaan lahan gambut di Siantan bahkan dinilai dapat menjadi contoh atau role model dalam pemanfaatan lahan gambut.
Ia kemudian mendorong para pakar gambut untuk tidak hanya mengedepankan teori, tetapi juga mempelajari praktik sederhana yang telah dilakukan masyarakat di lapangan.
“Sepertinya pakar gambut jangan lagi banyak teori, tapi coba lahirkan praktik-praktik sederhana dari Siantan dalam pemanfaatan lahan gambut,” ujarnya.
Sutarmidji mengaku telah mengetahui alasan mengapa lahan gambut di Siantan dapat dimanfaatkan secara produktif tanpa harus dibakar dan relatif jarang mengalami kebakaran.
“Kalau saya sudah tahu kenapa Siantan bisa buat lahan gambut produktif tanpa harus membakar,” tulisnya.







