Lelaki Abu-Abu di Balik Misi Kenabian Jurnalisme

Ilham Khoiri
Foto/Ilham Khoiri.

KALBAR SATU ID – Masa kecil seorang Ilham Khoiri dihabiskan di sebuah desa dekat hutan jati Bojonegoro. Lewat buku-buku sastra lawas bawaan almarhum ayahnya, imajinasi Ilham kecil berhasil melompati sekat geografi. Buku menjadikannya kembara, menembus batas desa hingga kini ia dipercaya menjadi jurnalis senior Harian Kompas sekaligus General Manager Bentara Budaya.

Perjalan hidup jurnalis yang juga pelukis ini unik. Ia sempat mendalami Teologi di IAIN
Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta, yang saat ini kampus tersebut telah berganti nama menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. sebelum akhirnya melompat.

Nama Peserta Hermansyah
Nama Penguji Ilham Khoiri
Perusahaan pers/ Media Kalbar Satu
Tanggal 10 Juli 2026
Tempat Pendopo Gubernur Kalimantan Barat
Nomor dan Judul Unit
Kompetensi 1.9 Wawancara Tatap Muka
mengambil Magister Seni Rupa di ITB.

[bacajuga berdasarkan="tag" judul="Baca Juga:" mulaipos="0"]

Baginya agama dan seni selalu punya titik temu yang indah, meski ia tak menampik realitas bahwa agama sering kali disimpan dalam dua sisi yakni sisi terang yang damai, dan sisi gelap yang kerap memicu konflik.

Keteguhan jurnalisme Ilham sempat diuji saat ia ditangkap dan ditahan selama 7 jam oleh
Kepolisian Diraja Malaysia pada 2012 silam kala menginvestigasi kasus penembakan misterius tiga TKI asal Lombok.

Ia baru bebas dini hari setelah melalui lobi diplomatik tingkat tinggi.

[bacajuga berdasarkan="tag" judul="Baca Juga:" mulaipos="1"]

Ketika ditanya warna apa yang paling menggambarkan dirinya saat ini, Ilham memilih warna abu-abu seperti langit mendung. Bagi seorang pelukis, abu-abu bukanlah warna tunggal yang
membosankan, melainkan hasil leburan dari kerrumitan banyak warna.

“Hidup ini kompleks tapi kita harus menyikapinya dengan sederhana agar tidak stres” ujarnya.

Menutup perbincangan, Ilham menitipkan pesan profetik sebuah misi kenabian bagi para jurnalismuda di era digital saat ini. Mengutip falsafah Jawa, tansah eling lan waspodo (tetap sadar danwaspada) ia menegaskan jurnalisme harus menjadi alat perjuangan.

[bacajuga berdasarkan="tag" judul="Baca Juga:" mulaipos="2"]

“Kita harus punya kemampuan membantu masyarakat keluar dari kegelapan masalah menujupencerahan yang terang benderang (minadz dzulumaati ilan nuur). Gunakan privilege wartawanbukan untuk kesombongan, tapi untuk mencerdaskan bangsa,” pungkasnya.

Ikuti GOOGLE NEWS atau Join Channel TELEGRAM

Pos terkait