KALBAR SATU ID –Dentuman gong membuka semangat pelestarian budaya di Gedung Praktik Liturgi STAKat Negeri Pontianak, Kamis (7/5/2026). Balutan pakaian adat dari berbagai daerah Nusantara mewarnai pembukaan Seminar Nasional Pekan Budaya 2026 yang mengusung tema “Generasi Muda Cinta Adat dan Budaya”.
Untuk pertama kalinya, STAKat Negeri Pontianak menghadirkan seminar nasional sebagai ruang refleksi budaya lokal yang mempertemukan nilai adat, identitas generasi muda, dan iman Katolik di tengah arus modernisasi.
Suasana kampus pun tampak seperti miniatur Indonesia. Peserta hadir mengenakan pakaian adat Dayak, Jawa, Batak, Melayu, NTT, Manggarai, Papua, hingga Bali, mencerminkan keberagaman yang tetap bersatu dalam semangat menjaga warisan budaya bangsa.
Acara dibuka secara resmi melalui prosesi ritual adat yang kemudian dilanjutkan pemukulan gong oleh Ketua STAKat Negeri Pontianak, Dr. Sunarso, S.T., M.Eng. bersama jajaran, didampingi Agustinus Pangalangok Jilah beserta jajaran.
Prosesi tersebut menjadi simbol dimulainya semangat bersama untuk menjaga adat, budaya, dan identitas bangsa di tengah perkembangan zaman modern.
Dalam sambutannya, Ketua STAKat Negeri Pontianak menegaskan bahwa keberagaman budaya yang ada di lingkungan kampus merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama.
“Kita ini miniatur Nusantara. Berbagai suku dipersatukan di STAKat Negeri Pontianak. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, tetapi kekuatan untuk saling mengenal dan menghargai.” ungkapnya
Pernyataan tersebut disambut antusias oleh para peserta seminar yang memenuhi Gedung Praktik Liturgi.
Ketua Panitia, Elpidius Ari Wibowo mengatakan, bahwa seminar nasional ini lahir dari kerinduan untuk menghadirkan ruang diskusi budaya bagi generasi muda.
Menurutnya, modernisasi tidak boleh membuat anak muda kehilangan identitas budaya dan melupakan akar leluhurnya sendiri.
Seminar semakin hidup ketika moderator, Eugenio Agung Bimandaru, mulai mengarahkan diskusi dengan pertanyaan kritis mengenai identitas budaya generasi muda.
“Banyak orang mengaku 100% Dayak dan 100 % Katolik, tetapi hanya sebatas ucapan. Lalu apa sebenarnya makna menjadi manusia Dayak?”
Pertanyaan tersebut langsung memancing perhatian peserta seminar. Menanggapi hal itu, Bapak Agustinus Pangalangok Jilah menjelaskan bahwa Dayak bukan sekadar simbol atau identitas suku semata.
“Dayak itu bukan hanya pakaian adat atau nama suku. Dayak itu keberanian, harga diri, dan penghormatan terhadap adat serta kehidupan.” tegasnya.
Beliau juga menjelaskan bahwa masyarakat Dayak memiliki sejarah panjang yang tersebar di tiga negara. Menurutnya, budaya Dayak harus dipahami sebagai warisan nilai kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini.
Dalam sesi diskusi, Panglima Jilah turut menyoroti tantangan adat di era modern.
Ia menilai masih ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan adat demi kepentingan pribadi dan keuntungan tertentu.
“Sekarang banyak orang bicara adat, tetapi adat dipakai untuk mencari keuntungan. Orang menghukum bukan lagi dengan adat, tetapi dengan uang. Ini yang berbahaya.” jelasnya.
Pernyataan tersebut membuat suasana seminar semakin reflektif. Ia menegaskan bahwa adat sejatinya lahir untuk menjaga kehormatan manusia dan keseimbangan kehidupan, bukan menjadi alat kepentingan tertentu.
Tak hanya itu, Panglima Jilah juga menanggapi stigma masyarakat yang sering mengaitkan budaya Dayak dengan minuman keras dalam tradisi gawai adat.
“Gawai itu ucapan syukur kepada Jubata atas panen dan kehidupan yang diberikan. Jangan salah memahami budaya.” ujarnya.
Menurutnya, budaya mengajarkan rasa syukur, persaudaraan, gotong royong, serta penghormatan terhadap alam dan sesama manusia.
Pembahasan seminar kemudian berkembang pada hubungan antara budaya dan iman Katolik. Dalam diskusi tersebut ditegaskan bahwa budaya tidak bertentangan dengan iman, melainkan dapat berjalan bersama sebagai bagian dari kehidupan manusia.
Nilai-nilai budaya yang baik dipandang mampu menjadi jalan inkulturasi iman Katolik di tengah masyarakat. Menjadi Katolik, menurut narasumber, bukan berarti meninggalkan budaya sendiri.
“Iman harus membuat kita semakin menghargai budaya yang baik dan luhur, bukan malah melupakannya.” jelasnya.
Selain membahas adat dan iman, seminar nasional ini juga menyinggung tantangan generasi muda di era digital. Para peserta diajak untuk tidak kehilangan identitas budaya hanya karena mengikuti tren modernisasi.
Generasi muda didorong agar mampu memanfaatkan teknologi dan media sosial sebagai sarana memperkenalkan budaya daerah kepada dunia luar.
“Kalau bukan kita yang menjaga budaya, lalu siapa lagi? Jangan sampai kita lebih mengenal budaya luar daripada budaya sendiri.”
Pesan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling mendapat perhatian peserta seminar.
Di akhir sesi, moderator menyampaikan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga warisan budaya bangsa.
“Jangan menjadi penonton di tanah sendiri.
Jadilah agen perubahan, promotor budaya, dan penjaga warisan leluhur.” ungkapnya.
Moderator juga mengutip pesan inspiratif dari Panglima Jilah mengenai semangat perjuangan hidup.
“Orang miskin tidak boleh kalah dengan orang kaya. Jangan malu lahir dari keluarga sederhana. Dan jangan menjadi penonton di tanah sendiri. Semua bermula dari keberanian dan usaha diri sendiri.” tutupnya.
Seminar Nasional Pekan Budaya STAKat Negeri Pontianak 2026 akhirnya tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan budaya, refleksi iman, dan kebangkitan semangat generasi muda untuk mencintai adat dan budayanya sendiri.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan zaman, seminar ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno untuk ditinggalkan, melainkan identitas dan akar kehidupan yang harus terus dijaga oleh generasi penerus bangsa.

