KALBAR SATU ID – Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kecamatan Pontianak Utara sejatinya menjadi wadah penting dalam menjaring, membina, serta menyeleksi generasi terbaik putra-putri daerah yang memiliki kemampuan dan prestasi di bidang Al-Qur’an.
Namun sangat disayangkan, dalam pelaksanaannya masih ditemukan adanya peserta lomba yang berasal dari luar wilayah Kecamatan Pontianak Utara.
Kondisi ini tentu menimbulkan keprihatinan bersama. Mengingat Kecamatan Pontianak Utara memiliki banyak lembaga pendidikan Islam, pondok pesantren, rumah tahfidz, serta santri-santri berprestasi yang layak diberikan kesempatan untuk berkembang dan membawa nama daerahnya sendiri ke jenjang yang lebih tinggi.
Informasi yang berkembang di tengah masyarakat menyebutkan bahwa persoalan seperti ini bukan pertama kali terjadi, melainkan telah berlangsung dari tahun ke tahun. Hal tersebut dinilai dapat mengurangi kesempatan bagi putra-putri asli Pontianak Utara untuk tampil dan berkompetisi secara sehat di daerahnya sendiri.
Salah satu contoh yang menjadi perhatian adalah seorang hafidz Al-Qur’an bernama ANGGARA, alumni Pondok Pesantren Darul Khoirot, yang berasal dari Kelurahan Siantan Tengah, Pontianak Utara. Yang bersangkutan diketahui kerap meraih prestasi pada ajang MTQ tingkat kecamatan maupun tingkat kota. Namun ironisnya, selama ini justru lebih sering mewakili wilayah Pontianak Timur dibandingkan daerah asalnya sendiri, yaitu Pontianak Utara.
Hal ini menjadi catatan penting bagi seluruh pihak terkait agar lebih serius memperhatikan prosedur dan mekanisme pendaftaran peserta MTQ. Sebab pelaksanaan MTQ bukan sekadar kegiatan seremonial atau ajang formalitas tahunan, melainkan bagian dari proses pembinaan kader Qur’ani yang nantinya diharapkan mampu mengharumkan nama daerah pada tingkat yang lebih tinggi.
Ketua PAC GP Ansor Pontianak Utara, Herman Ali, menyampaikan harapannya agar ke depan pelaksanaan MTQ dapat berjalan lebih profesional, transparan, dan mengedepankan kepentingan pembinaan generasi lokal.
“Kami berharap LPTQ, panitia pelaksana, serta seluruh pihak terkait baik di tingkat kecamatan maupun kelurahan dapat lebih profesional dan selektif dalam proses pelaksanaan MTQ. Berikan ruang dan kesempatan yang adil bagi putra-putri asli daerah untuk berkembang dan membawa nama wilayahnya sendiri. Karena MTQ bukan hanya soal perlombaan, tetapi juga tentang pembinaan, kaderisasi, dan masa depan generasi Qur’ani di daerah,” kata Herman Ali, Jum’at (22/5/26).
Dengan adanya perhatian dan evaluasi bersama, diharapkan pelaksanaan MTQ di masa mendatang benar-benar mampu melahirkan bibit-bibit unggul asli daerah yang berprestasi, berintegritas, serta mampu menjadi kebanggaan masyarakat Kecamatan Pontianak Utara.

