KALBAR SATU ID – Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kalimantan Barat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pergunu bersama Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) yang berlangsung pada 13–15 Februari 2026 di kompleks Pesantren Amanatul Ummah, Surabaya, Jawa Timur.
Kegiatan nasional ini diikuti pengurus Pergunu dan JKSN dari seluruh Indonesia sekaligus dirangkaikan dengan peresmian Sekretariat JKSN di lingkungan pesantren. Di bawah koordinasi Ketua PW Pergunu Kalbar, Sholihin HZ, rombongan Pergunu Kalbar aktif mengikuti seluruh rangkaian sidang dan forum strategis organisasi.
Kehadiran delegasi Kalbar merupakan tindak lanjut surat undangan dari PP Pergunu bernomor 039/A-1/SU/I/2026 tentang Undangan Peserta Rakernas.
Sejumlah pejabat dan tokoh nasional turut hadir, di antaranya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djamari Chaniago, serta pengurus wilayah Pergunu dan JKSN se-Indonesia.
Rakernas kali ini dinilai istimewa karena menandai pemanfaatan kantor baru JKSN yang diproyeksikan menjadi pusat konsolidasi gerakan kebangsaan berbasis nilai-nilai pesantren.
Forum mengangkat tema konsolidasi ulama dan pemerintah dalam memperkuat arah kebangsaan. Isu strategis yang dibahas meliputi penguatan moderasi beragama, peran guru dalam membangun karakter generasi muda, serta penguatan kontribusi pesantren dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Rakernas di markas baru JKSN. Menurutnya, forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara ulama, pemerintah, dan masyarakat.
Ketua Pergunu dan JKSN, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, menegaskan komitmen organisasi untuk memperkuat peran guru dan kiai dalam pembangunan bangsa. Ia menekankan bahwa Rakernas bukan sekadar agenda rutin, tetapi ruang perumusan langkah konkret dalam merespons tantangan sosial, pendidikan, dan kebangsaan.
Menurutnya, jaringan kiai dan santri harus menjadi perekat umat sekaligus garda terdepan dalam menanamkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin yang selaras dengan semangat kebangsaan.






