KALBAR SATU ID – Indonesia tengah berupaya menuju tahun 2045 bersih dari korupsi. Bahaya korupsi tidak hanya soal ngentit-mengentit uang, tetapi juga kepada sikap dan mental. Korupsi jelas perilaku yang buruk dan bisa merusak bangsa. Untuk itu gairah memerangi korupsi tidak boleh padam. Jika dibiarkan, ia akan tumbuh menjadi kebiasaan yang sistemik dan menjadi budaya.
Ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk menyampaikan pesan-pesan antikorupsi yang dikemas menarik melalu media kreatif, semisal festival pemutaran film.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia (RI) kembali menyelenggarakan Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) Movie Day 2026. Tahun ini ACFFEST memasuki tahun ke-12 dan konsisten menggunakan film sebagai medium kampanye. Bukan sekadar program tahunan KPK, lebih dari itu, ACFFEST Movie Day 2026 adalah cara lain bagi KPK menyuarakan pesan antikorupsi.
Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK Amir Arief menyampaikan, ACFFEST Movie Day 2026 bertujuan agar generasi muda terutama pelajar, mahasiswa, komunitas kreatif, hingga masyarakat umum yang tertarik di industri film, terinspirasi dan perhatian terhadap isu korupsi.
“Film dapat menjadi media yang menarik dan efektif untuk menyebarkan semangat antikorupsi karena jauh lebih mudah diterima oleh masyarakat, sehingga pesan yang ingin disampaikan KPK dapat tersampaikan dan terserap,” ujar Amir Arief yang juga Festival Director ACFFEST 2026, dalam keterangan tertulis di Kalimantan Barat, Rabu (29/4/2026).
Rangkaian kegiatan akan dilaksanakan di 12 provinsi mencakup 40 Kota/Kabupaten di wilayah Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Riau, Maluku Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, dan DKI Jakarta. Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi provinsi ke-delapan setelah sebelumnya acara digelar di Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Maluku Utara, Riau, Jawa Barat, Lampung, dan Jawa Timur. Di Kalbar, kegiatan digelar di tiga lokasi antara lain Bertemoe Coffee, Pontianak (29 April), Aming Coffee, Singkawang, (30 April) dan Rumbi.id, Sambas (1 Mei).
Selama tiga hari, seluruh warga ‘Seribu Sungai’ akan disuguhkan festival edukatif nan atraktif, mulai dari pemutaran film pendek dilanjut diskusi bersama narasumber kompeten dari komunitas film, akademisi, dan penyuluh antikorupsi, lalu ada pertunjukan seni lokal sebagai bentuk pendekatan kultural, produksi konten, pentas teater, hingga dialog publik melalui media.
Praktisi Film sekaligus salah satu Narasumber Diskusi Film ACFFEST Movie Day 2026 wilayah Kalbar, Deny Sofian, mengaku senang ACFFEST hadir di Kalbar. Ia berharap gelaran ini menjadi momentum yang baik untuk mengasah ide-ide organik dari para sineas di wilayah Kalbar.
“Harapannya ACFFEST Movie Day 2026 menjadi ruang bertemu antar sineas, komunitas dan masyarakat, sehingga tidak hanya sebagai ajang nonton bareng, tetapi juga ruang diskusi dan tukar perspektif sehingga dari sana lahir kolaborasi- kolaborasi baru, karena ekosistem film itu tumbuh dari kegiatan semacam ini,” ujar Deny di Pontianak, Rabu (29/4).
Sayembara Film, Terbuka untuk Sineas Kalbar Sebagai upaya KPK untuk menanamkan arti penting partisipasi masyarakat dalam melawan segala bentuk tindak korupsi, pada ACFFEST 2026 juga digelar kompetisi film pendek yang dihelat rutin sejak 2013 lalu. Kali ini tajuknya, ‘Dari Lensa, Integritas Terjaga’.
Di wilayah Kalbar sendiri, bertindak sebagai perwakilan KPK hadir Kasatgas 4 Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK Adhi Setyo Tamtomo sekaligus Program Director ACFFEST 2026 didampingi Program Koordinator ACFFEST Movie Day 2026, Maha Raisha Diviana. Mengenai sayembara film pendek tersebut, Adhi Setyo Tamtomo menyebut, ACFFEST tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang belajar, produksi, dan distribusi karya yang mendorong lahirnya sineas muda dengan perspektif- perspektif baru dalam memaknai isu antikorupsi, sekaligus memperluas jangkauan kampanye melalui karya-karya audiovisual yang relevan dengan konteks sosial masyarakat.
“Selama ini publik sering memaknai film antikorupsi sebagai cerita tentang tindakan korupsi secara langsung. Sebabnya, sayembara film ACFFEST menjadi ajang tepat untuk menularkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, tanggungjawab, kerja keras, kesederhanaan, kemandirian, keberanian, dan keadilan bagi masyarakat luas, terutama anak muda sebagai the agent of change,” tuturnya.
Di sisi lain Praktisi Film Deny menyebut, bukan sekadar alur cerita ‘berat’, nilai- nilai yang ditekankan pada sayembara film ini sejatinya memiliki sudut pandang penilaian yang luas, dengan tujuan akhir mengajak orang untuk ikut merasakan kegelisahan dan keresahan yang ada.
“Bicara film antikorupsi orang langsung kebayang cerita yang besar dan berat seperti kekuasan dan suap. Padahal sebenarnya yang ingin disampaikan melalui festival ini justru hal-hal yang dekat dengan kita, seperti jujur kepada diri sendiri, berani ambil sikap, atau hal kecil yang sering kita anggap sepele tapi sebenarnya itu menjadi pondasi sebuah integritas,” ungkapnya.
Katanya, kunci utama ada di cerita. Bila ceritanya jujur dan manusiawi, maka pesan tersebut akan sampai dengan sendirinya.
“Tidak perlu bilang ini benar, itu salah, cukup perlihatkan dilema dan konflik supaya masyarakat ikut merasakan. Kadang lewat jalan cerita humor dan sederhana, pesannya lebih kena daripada yang serius,” imbuh Deny.
Terkait komperisi, para sineas diberikan kesempatan untuk mengirimkan karya mereka berupa film pendek dan ide cerita film pendek fiksi berdurasi maksimal 15 menit. Kompetisi ini terbuka untuk umum dan pendaftarannya sendiri dibuka mulai 1 April hingga 8 Mei 2026 untuk kategori Kompetisi Ide Cerita Film Pendek dan Kompetisi ACFFEST.
Sedangkan kategori Kompetisi Film Pendek Fiksi dan Kompetisi Film Pendek Pelajar, serta Kompetisi Film Pendek Vertikal Kementerian/Lembaga pendaftarannya dibuka 1 April hingga 29 Mei 2026. Khusus wilayah Kalbar, lima proposal dengan ide cerita terbaik akan mendapat bantuan dana produksi sebesar Rp60 juta, dan sejumlah proposal ide cerita terpilih berhak mengikuti Movie Camp serta mendapat pendampingan teknis dari mentor profesional di kelas workshop.
Pembuat film dengan ide cerita terbaik juga akan diberikan waktu untuk produksi film selama 2 bulan pada Juli-September 2026. Film-film yang telah selesai diproduksi dan diberikan penilaian, kemudian akan diputar pada Malam Penganugerahan ACFFEST 2026 di Jakarta pada 25 November mendatang, jelang Hari Antikorupsi Sedunia (Harkodia).
Baik kategori film pendek fiksi maupun proposal ide film pendek, keduanya harus mengangkat tema antikorupsi dengan memuat nilai-nilai integritas, seperti kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, kemandirian, keberanian dan keadilan.
“Film daerah mempunyai kekuatan karena dekat dengan realitas yang ada. Ceritanya lebih jujur, dan itu membuat pesannya lebih mudah diterima oleh penonton. Anak muda sekarang bukan hanya menonton, mereka juga sebagai story teller, menjadi the agent of change bukan dari cara yang besar tapi lewat cerita yang mereka buat dan sebarkan,” pungkas Deny.

