KALBAR SATU ID – Saya bisa katakan bahwa sivitas akademika Indonesia dalam tiga hari ini menerima petuah mengenai integritas akademik, narasinya pun dibangun secara rapi dalam bahasa data dan angka atau saya sebut “moralitas bibliometrik”. Peringatannya cenderung dramatis, bahwa jurnal-jurnal Indonesia, khususnya yang berafiliasi dengan perguruan tinggi Islam, dituduh terjebak dalam praktik citation rings dan citation stuffing—sebuah ekosistem saling sitasi secara sengaja sebagai aktivitas ilmiah.

Kira-kira begitu argumentasi awal saya mengenai opini berjudul “High rankings, low reach in Indonesian Journals”, terbit di The Jakarta Post, Jumat, 8 Mei 2026.

Saya baca berulang bahwa narasi yang ada di dalam tulisan tersebut membawa aura kepanikan bahkan mungkin iri dalam arti positif, seperti: 1) terlalu banyak sitasi lokal; 2) terlalu banyak jurnal yang saling terhubung, 3) terlalu banyak Indonesia mengutip Indonesia. Visibilitas, rupanya, menurutnya memiliki dua sisi. Artinya, jurnal mendapat pengakuan internasional, tetapi juga harus mendapat pengawasan lebih ketat.

Tetapi, kenyataannya muncul suatu keajaiban intelektualisme yang tak terduga.

Seorang pengkritik yang sedang gelisah atas relevansi sitasi ini, dalam salah satu artikel akademiknya, ternyata mengutip artikel berjudul “Karakteristik Sediaan Garam Ulva lactuca dari Perairan Sekotong Nusa Tenggara Barat bagi Pasien Hipertensi” pada bagian pembahasan khusus mengenai birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Untuk sub judulnya tentang “Religious Texts Exploitation”. Nah, untuk judul artikel yang telah ia tulis bisa dicari satu persatu intinya di salah satu Jurnal hukum Indonesia, pasti ketemu.

Pada bagian ini, bahkan Rumput Laut pun layak meminta penjelasan.

Kegentingan epistemologis seperti apa sebenarnya yang terjadi dalam riset garam laut hingga membutuhkan refleksi teologis tentang bakti kepada orang tua? Apakah rumput lautnya mendadak menjadi anak soleh? Apakah pasien hipertensi sembuh karena restu ibu? Ataukah kini birrul walidain resmi masuk ke dalam kanon farmakologi studi natrium pesisir? Pertanyaan ini pahit dan sulit dipahami, mungkin hasil dari kecanggihan belajar di Luar Negeri, lagi-lagi mungkin.

Dan kitapun ragu untuk bertanya lebih jauh, karena tampaknya “keolengan” sitasi hanya dianggap masalah ketika dilakukan oleh orang lain, tidak bagi dirinya.

Di sinilah diskusi tentang etika sitasi berisiko berubah menjadi pertunjukan, bukan prinsip. Masalahnya bukan karena kritik itu ada, kritik memang perlu. Masalah muncul ketika kritik bekerja secara selektif, mengubah analisis sitasi menjadi drama moral, sebagian jaringan disebut “komunitas ilmiah” sementara yang lain dicap “kartel sitasi.”

Ekosistem akademik di mana pun memang bersifat relasional. Para sarjana mengutip kolega yang mereka baca, institusi tempat mereka bekerja sama, dan percakapan intelektual yang mereka tempati. “Harvard mengutip Harvard”. Teoretikus Eropa selama puluhan tahun saling mendaur ulang gagasan satu sama lain dengan penuh percaya diri. Bahkan kerajaan sitasi akademik telah lama dibangun di atas ekosistem yang padat dan saling mengukuhkan dengan cukup canggih sehingga lolos dari skandal—semata karena mengenakan pakaian institusi bergengsi.

Nah, mungkin pengkritik ini belum membaca karya Pierre Bourdieu tentang “Homo Academicus”, bagaimana konsep academic capital, reproduction of elite institutions, dan symbolic power bekerja. Terus, karya Raewyn Connell tentang “Southern Theory”, bagaimana teori umat Global South sering dianggap tidak memiliki legitimasi di banding barat. Bahkan, penerbit Elsevier sendiri yang juga bisa disebut citation cartel atau rings.

Namun, saat jurnal hukum Indonesia khususnya di PTKIN mulai membangun suatu percakapan lokal-nasional dengan kokoh, justru reaksinya tetiba mirip polantas menghadang ibu-ibu bermotor tak berhelm.

Gak, bukan berarti saya mengatakan bahwa sivitas akademika Indonesia bersih dari kesalahan. Sebagian praktik sitasi yang tidak menentu layak diperbaiki dan dikritik. Ya, akhirnya kita kembali pada birrul walidain, garam rumput laut, dan pasien hipertensi sebagai salah satu gambaran “keolengan” yang terjadi.

Penulis: Nurhidayah, Wakil Sekretaris Umum Bidang Internal Korps Kohati-Wati HMI Cabang Pontianak 2024-2025, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga (2026-sekarang).