KALBAR SATU ID, TERKINI – Eksistensi kerajaan Islam di Kalimantan Barat tidak dapat dilepaskan dari peran sentral sebuah rumah ibadah. Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUSHA) IAIN Pontianak mengupas tuntas sejarah ini melalui diskusi rutin bertajuk “Peran Masjid Kerajaan dalam Dakwah Islam di Kalimantan Barat” yang digelar secara daring pada Jumat siang (08/05).
Diskusi ini menghadirkan Dr. Zulkifli, S.Ag., M.A., Wakil Dekan 1 FUSHA IAIN Pontianak sekaligus Dosen Sejarah Peradaban Islam dan Direktur eLSIM Kalbar, sebagai narasumber utama. Dimoderatori oleh mahasiswa bernama Tamim, forum ini membedah hasil riset historis tahun 2025 yang kini telah diterbitkan menjadi buku.
Dalam paparannya, Dr. Zulkifli menegaskan bahwa Masjid Jami tidak dapat dipisahkan dari eksistensi kerajaan Islam itu sendiri. Posisinya yang selalu dibangun berdampingan dengan istana atau keraton merupakan representasi tata ruang yang penuh makna.
“Istana atau keraton dan masjid adalah simbol nyata dari perpaduan politik dan agama,” tutur Dr. Zulkifli.
Tiga Jejak Utama di Pesisir Kapuas
Secara geografis, keraton dan masjid kerajaan di Kalimantan Barat umumnya berpusat di pinggiran Sungai Kapuas guna memfasilitasi akses transportasi dan kebutuhan bersuci (wudu) di masa lampau. Riset ini memfokuskan kajian pada tiga masjid kerajaan bersejarah:
• Masjid Jami’ Sultan Nata Sintang: Merupakan yang tertua di antara ketiganya, masjid ini didirikan pada 12 Muharram 1083 H atau bertepatan dengan tahun 1672 M oleh Maulana Sulthan Nata Muhamad Syamsuddin .
• Masjid Jami’ At-Taqwa Sekadau: Mulai didirikan pada tahun 1804 M di bawah pemerintahan Pangeran Kesuma Negara.
• Masjid Jami’ Sultan Ayyub Sanggau: Berdiri pada periode Perang Diponegoro, tepatnya pada tahun 1825-1828 M oleh Sultan Ayyub Paku Negara .
Identitas ‘Senganan’ dan Akulturasi Budaya Selain berfungsi sebagai tempat ibadah dan sarana pendidikan, masjid-masjid ini menjadi titik nol pusat pengembangan dakwah yang memicu proses Islamisasi masyarakat lokal. Proses konversi agama ini melahirkan identitas kultural baru, di mana masyarakat lokal atau Dayak yang memeluk Islam kemudian diidentifikasi sebagai kelompok “Senganan” atau melebur menjadi identitas Melayu .
Perubahan keyakinan ini turut mengubah pola hidup, seperti menghindari makanan dan minuman yang diharamkan. Menariknya, kondisi ini justru menumbuhkan budaya hospitalitas inklusif dan toleransi kuliner di kalangan masyarakat Dayak yang secara khusus memisahkan peralatan masak untuk menyambut kerabat mereka yang telah Muslim .
Dakwah yang bermula dari masjid juga melahirkan ritus-ritus budaya baru hasil akulturasi, yang napas keislamannya masih kental terasa hingga hari ini. Beberapa di antaranya adalah tradisi Terempoh di Sintang, tolak bala Faraje di Sanggau, serta Mulang Hajat di Sekadau .
Tantangan Fungsi Masjid di Era Modern
Pada akhir sesi, Dr. Zulkifli menekankan pentingnya merefleksikan sejarah ini untuk merevitalisasi peran masjid di era modern. Ia mengajak jamaah dan mahasiswa untuk mengembalikan posisi masjid agar lebih multifungsi, layaknya pada masa Rasulullah di mana masjid menjadi pusat seluruh aktivitas sosial dan kenegaraan.
“Masjid tidak hanya sekadar tempat ibadah mahdhah. Idealnya, masjid juga dilengkapi dengan fasilitas pengembangan ekonomi warga, pusat pendidikan, hingga layanan cek kesehatan gratis bagi jamaah setelah ibadah salat Jumat,” pungkasnya.
Diskusi akademik ini diharapkan mampu memantik generasi muda untuk merawat warisan peradaban Islam di Kalimantan Barat sekaligus mengembangkan fungsi strategis masjid di tengah masyarakat kontemporer.

