KALBAR SATU ID – Perubahan menuju ekonomi hijau membutuhkan lebih dari sekadar gagasan. Kolaborasi, inovasi, dan keterlibatan generasi muda diperlukan untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan.
Semangat itu mengemuka dalam Diskusi Ilmiah Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak bertema “Generasi Muda untuk Ekonomi Hijau: Inovasi, Kolaborasi, dan Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan berlangsung di Aula Pertemuan Rektorat UPB Pontianak, Rabu 30 September 2026, sebagai bagian dari rangkaian akademik menjelang wisuda.
Diskusi yang biasanya digelar sehari sebelum wisuda kali ini disesuaikan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca ekstrem. Sejumlah akademisi dan praktisi hadir sebagai narasumber, yakni Rita Hastita, S.Sos., M.Si.; Irfan Khaerawan, S.P.; Prof. Dr. Eni Rosalina, S.Hut., M.Si.; Prof. Dr. Ir. Aguslim Masulili, M.P.; serta Deni Friawan dari CSIS. Diskusi dipandu oleh Romdhon, S.Sos.I jurnalis TVRI Kalbar.
Rektor UPB Pontianak, Dr. Purwanto, S.H., M.Hum., FCBArb., FIIArb., mengatakan ekonomi hijau berkaitan erat dengan keberlanjutan, lingkungan hidup, dan perubahan iklim. Isu tersebut, menurutnya, relevan dengan kondisi Kalimantan Barat yang memiliki kekayaan sumber daya alam sekaligus menghadapi tantangan ekologis.
“Kalau kita berbicara tentang ekonomi hijau, tentu sangat berkaitan dengan isu-isu keberlanjutan, lingkungan hidup, perubahan iklim dan lain sebagainya. Apalagi kalau kita melihat kondisi Kalimantan Barat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi lingkungan tidak hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga aktivitas manusia. Karena itu, diperlukan kesadaran dan langkah bersama untuk merespons berbagai tantangan lingkungan.
Purwanto berharap diskusi ilmiah tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi mendorong lahirnya tindakan nyata, terutama dengan melibatkan generasi muda. Mahasiswa dinilai memiliki peran strategis karena akan menghadapi perubahan sekaligus menjadi bagian dari kepemimpinan dan pembangunan Indonesia pada masa mendatang.
“Mahasiswa yang sekarang ini ke depannya akan melakukan perubahan dan sekaligus menjadi pemimpin masa depan. Karena itu, mereka harus dipersiapkan kompetensi dan kapasitasnya,” katanya.
Persiapan itu, lanjutnya, tidak cukup hanya melalui pendidikan formal. Mahasiswa juga perlu mendapat ruang untuk berdiskusi, berkolaborasi, berinovasi, dan terlibat dalam upaya menyelesaikan persoalan di masyarakat.
Rektor juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak. Transisi menuju ekonomi hijau tidak dapat dilakukan oleh satu kelompok saja, melainkan membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, masyarakat, dan generasi muda.
“Perubahan tidak bisa dilakukan sendiri. Yang paling penting ke depan adalah bagaimana membangun kolaborasi,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, UPB mendorong mahasiswa agar tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga berperan dalam proses perubahan. Kampus diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan gagasan, pengetahuan, dan praktik untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan.
Menuju Indonesia Emas 2045, pembangunan bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga lingkungan dan kualitas hidup generasi mendatang. Dari kampus, gagasan ekonomi hijau diharapkan berkembang menjadi inovasi, kolaborasi, dan aksi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.







