Kiai yang Melampaui Zamannya: Visi Pendidikan Alm. KH. Qosim Bukhori

Kiai yang Melampaui Zamannya: Visi Pendidikan Alm. KH. Qosim Bukhori
Kiai yang Melampaui Zamannya: Visi Pendidikan Alm. KH. Qosim Bukhori. Foto/istimewa.

KALBAR SATU ID – Diawali dari sebuah surau, mengaji bersama anak tetangga sekitar yang dimulai pada tahun 1971an, seorang kiai memulai perjuangan dakwah dan vis pendidikannya. Visi besar itu di mulai pada tahun 1983, ketika pesantren ini sudah mulai dikenal masyarakat Kabupaten Malang, bangunan pondok sudah mulai berdiri kokoh dan santri mulai berdatangan dari berbagai daerah, dimana sebagian besar pesantren pada masa itu, sedang berlomba mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs), seorang kiai di sebuah desa di Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, justru mengambil langkah yang tidak lazim. Ia mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Keputusan itu sempat mengundang banyak tanya. Mengapa bukan MTs seperti pesantren pada umumnya? Mengapa memilih sekolah umum?

Baru beberapa tahun kemudian terjawab pertanyaan itu. Langkah yang kala itu dianggap berbeda ternyata menjadi fondasi lahirnya sebuah model pendidikan yang memadukan kekuatan pesantren dengan pendidikan modern. Kiai tersebut adalah KH. Qosim Bukhori, pendiri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum II Putukrejo, Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Yang membuat beliau layak dikenang bukan semata karena sebagai pendiri dan pengasuh pesantren, dekan Fakultas Syariah Universitas Islam Malang (UNISMA), pengurus Nahdlatul Ulama, Ketua Dewan Syuro PKB Kabupaten Malang, ataupun mursyid Tarekat Naqsyabandiyah. Tokoh dengan banyak peran bukanlah hal yang langka di lingkungan Nahdlatul Ulama. Yang membedakan KH. Qosim Bukhori adalah kemampuannya mengintegrasikan berbagai dunia yang sering kali dipandang berjalan sendiri-sendiri, yakni pesantren, sekolah umum, perguruan tinggi, organisasi, politik, dan tasawuf.

[bacajuga berdasarkan="tag" judul="Baca Juga:" mulaipos="0"]

Semua perjalanan besar itu justru berawal dari sesuatu yang sederhana.

Pada tahun 1971, KH. Qosim Bukhori memulai pengajian sederhana disebuah mushola kecil, di sebuah desa di Putukrejo Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang, dari tempat itulah beliau memulai kiprah perjuangan dan pengajian untuk masyarakat sekitar. Santri yang datang mula-mula hanya beberapa orang. Tidak ada bangunan megah, tidak ada fasilitas lengkap, apalagi dukungan besar seperti yang lazim ditemui saat ini. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan paling efektif untuk membangun umat.

Sedikit demi sedikit jumlah santri bertambah. Musala yang semula hanya menjadi tempat mengaji kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren yang kemudian diberi nama pondok pesantren Raudlatul Ulum 2. Pertumbuhan itu tidak lahir karena promosi atau pencitraan, melainkan karena keteguhan beliau yang terus berkeliling berdakwah melayani masyarakat dengan menyebarkan ilmu, ajaran thoriqoh naqsabandiyah, dan kepercayaan masyarakat terhadap keteladanan dan kesungguhan sang kiai dalam mendidik.

[bacajuga berdasarkan="tag" judul="Baca Juga:" mulaipos="1"]

Namun keberanian terbesar KH. Qosim Bukhori justru tampak ketika pondok mulai berkembang. Pada awal dekade 1980-an, mayoritas pesantren memilih memperkuat jalur pendidikan berbasis madrasah. Pilihan itu sangat wajar karena dianggap lebih dekat dengan tradisi pesantren. Akan tetapi, beliau melihat tantangan yang lebih jauh dan lebih visioner.

Beliau meyakini bahwa santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama. Mereka juga harus mampu memahami ilmu pengetahuan modern, memiliki keterampilan, serta siap hidup di tengah perubahan zaman. Dari keyakinan itulah lahir keputusan mendirikan SMP pada tahun 1983, disusul SMA, dan kemudian MA.

Urutan tersebut menunjukkan cara berpikir yang visioner. Ketika banyak pesantren memulai dari MTs menuju MA, KH. Qosim Bukhori justru memilih SMP dan SMA sebagai pintu masuk pendidikan formal. Pilihan ini bukan berarti mengurangi peran pendidikan agama, melainkan memperluas cakrawala pendidikan santri.

[bacajuga berdasarkan="tag" judul="Baca Juga:" mulaipos="2"]

Di pesantren, santri dibentuk akhlaknya, diperdalam ilmu agamanya, dan ditempa spiritualitasnya. Di sekolah, mereka memperoleh ilmu pengetahuan umum, sains, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi dinamika masyarakat modern. Dua sistem pendidikan itu tidak dipertentangkan, melainkan disatukan dalam satu visi besar yakni melahirkan generasi yang saleh sekaligus kompeten.

Apa yang kini dikenal sebagai integrasi ilmu sesungguhnya telah dipraktikkan beliau lebih dari empat dekade yang lalu.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa KH. Qosim Bukhori tidak melihat pendidikan sebagai sekadar proses transfer ilmu, tetapi sebagai upaya membangun manusia secara utuh. Dalam perspektif kepemimpinan transformasional, beliau bukan hanya mengelola lembaga pendidikan, tetapi mengubah cara masyarakat memandang masa depan anak-anak mereka. Pendidikan agama dan pendidikan umum bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua fondasi yang saling menguatkan.

Di luar pesantren, kiprah beliau juga menunjukkan keluasan pandangan. Sebagai akademisi, beliau pernah menjabat Dekan Fakultas Syariah Unisma Malang. Dunia kampus memberinya ruang untuk mengembangkan tradisi berpikir ilmiah sekaligus mempertemukan khazanah pesantren dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Posisi tersebut memperlihatkan bahwa seorang kiai tidak harus membatasi diri pada mimbar pengajian, tetapi juga dapat berkontribusi dalam pengembangan pendidikan tinggi.

Pengabdian beliau juga meluas melalui Nahdlatul Ulama. Berbagai amanah organisasi pernah diembannya hingga dipercaya menjadi Syuriah PCNU Kabupaten Malang. Organisasi bagi beliau bukan sekadar ruang struktural, melainkan wahana untuk memperluas manfaat pendidikan dan dakwah kepada masyarakat.

Begitu pula ketika memasuki dunia politik sebagai Ketua Dewan Syuro PKB Kabupaten Malang selama dua periode. Beliau tidak memandang politik sebagai arena perebutan kekuasaan semata, tetapi sebagai instrumen perjuangan untuk menghadirkan kemaslahatan umat. Sikap ini menunjukkan bahwa agama dan politik tidak harus dipertentangkan selama politik dijalankan dengan nilai, etika, dan tanggung jawab moral.

Keseluruhan peran tersebut kemudian menemukan keseimbangannya dalam jalan tasawuf. Sebagai mursyid Tarekat Naqsyabandiyah, KH. Qosim Bukhori tidak hanya membimbing aspek intelektual para santri dan masyarakat, tetapi juga kehidupan spiritual mereka. Di sinilah tampak bahwa kepemimpinan beliau tidak berhenti pada pembangunan institusi, melainkan juga pembentukan jiwa manusia menuju Tuhannya.

Dalam konteks kekinian, pemikiran KH. Qosim Bukhori terasa semakin relevan. Era kecerdasan buatan, digitalisasi, dan bonus demografi menuntut lahirnya sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Dunia kerja membutuhkan kompetensi, sementara kehidupan sosial membutuhkan karakter. Tantangan zaman tidak dapat dijawab hanya dengan ilmu agama atau ilmu umum secara terpisah.

Model pendidikan yang beliau bangun sejak awal justru menawarkan jawaban atas kebutuhan tersebut. Pesantren membentuk integritas, sekolah membangun kompetensi. Keduanya berjalan berdampingan, saling melengkapi, dan melahirkan generasi yang siap menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati diri.

Pada akhirnya, warisan terbesar Alm. Almagfurlah KH. Qosim Bukhori bukanlah bangunan pesantren, sekolah, atau jabatan yang pernah diembannya. Warisan yang sesungguhnya adalah cara berpikir yang melampaui zamannya. Beliau mengajarkan bahwa pendidikan tidak boleh terjebak pada dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan, antara tradisi dan modernitas, atau antara spiritualitas dan profesionalitas.

Banyak orang mampu mendirikan sekolah yang besar. Banyak pula yang berhasil membangun pesantren yang terkenal. Namun tidak banyak yang mampu merajut keduanya menjadi satu sistem pendidikan yang utuh dan berkelanjutan. KH. Qosim Bukhori telah menunjukkan bahwa membangun peradaban dimulai dari keberanian memiliki visi jauh ke depan, bahkan ketika visi itu belum sepenuhnya dipahami oleh zamannya.

Kini, ketika integrasi pendidikan menjadi wacana yang terus diperbincangkan, jejak pemikiran beliau layak dibaca kembali. Bukan sekadar sebagai kisah seorang kiai, melainkan sebagai inspirasi dan pelajaran bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu melihat kebutuhan masa depan, lalu bekerja dengan tekun untuk mewujudkannya, jauh sebelum orang lain menyadari pentingnya langkah tersebut.

Penulis: Husnul Hakim SY, Santri PPRU 2 dan Dekan Fisip Unira Malang.

Ikuti GOOGLE NEWS atau Join Channel TELEGRAM

Pos terkait