Tambakberas,Tempat Kembali

Tambakberas,Tempat Kembali
Foto/ilustrasi AI.

KALBAR SATU ID – Tambakberas,Tempat Kembali

“Rumah yang baik bukanlah rumah yang tak pernah ada perbedaan bagi penghuninya, Rumah yang baik adalah tempat setiap perbedaan pulang menjadi persaudaraan.”

Hasil rapat gabungan PBNU telah menetapkan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-35 pada 27-31 Agustus 2026, keputusan ini seolah mengakhiri berbagai spekulasi yang berkembang beberapa hari terakhir. Ada yang berharap Muktamar digelar di Lirboyo, ada yang mengusulkan tempat lain, bahkan tidak sedikit yang menjadikan lokasi Muktamar sebagai bagian dari dinamika politik organisasi.

[bacajuga berdasarkan="tag" judul="Baca Juga:" mulaipos="0"]

Akan tetapi ketika keputusan itu telah ditetapkan, suasana justru terasa lebih teduh. Banyak kalangan menerima dengan lapang dada. Bukan semata karena Tambakberas memiliki fasilitas yang memadai, melainkan karena Tambakberas menyimpan memori kolektif Nahdlatul Ulama. Ia bukan sekadar lokasi, melainkan tempat untuk kembali.

Dalam tradisi pesantren, pulang bukan berarti mundur. Pulang adalah kembali kepada akar. Dan bagi NU, salah satu akar itu bernama KH Abdul Wahab Chasbullah.

Tambakberas dan Rumah Besar Bernama NU

[bacajuga berdasarkan="tag" judul="Baca Juga:" mulaipos="1"]

Membicarakan NU tanpa menyebut nama Mbah Wahab akan terasa hambar. Beliau bukan hanya salah seorang pendiri dan penggerak NU, tetapi juga “arsitek sosial” yang mampu menjembatani perbedaan pandangan di kalangan para kiai.

Mbah Wahab dikenal memiliki karakter yang tegas, tetapi tidak keras. Berani, tetapi tidak mudah memecah belah. Ketika menghadapi perbedaan, beliau lebih memilih merajut daripada memutus, merangkul dari pada memukul. Itulah mengapa Tambakberas selalu identik dengan ruang keteduhan dan musyawarah.

Di pesantren, santri diajarkan bahwa mencari kemenangan tidak boleh mengorbankan persaudaraan. Berbeda pendapat adalah hal biasa, tetapi menjaga adab jauh lebih utama. Nilai itulah yang diwariskan Mbah Wahab kepada NU.

[bacajuga berdasarkan="tag" judul="Baca Juga:" mulaipos="2"]

Ketika Ksatria Menanggalkan Baju Besinya

Ada hal yang menarik dalam proses pengambilan keputusan soal tempat muktamar ini, sikap seorang ketum PBNU yang sendiko dawuh atas keputusan ini, keputusan yang dibacakan langsung oleh Rais Aam PBNU. Dalam tradisi kepahlawanan, seorang ksatria dikenal dari keberaniannya bertempur. Tetapi dalam tradisi pesantren, seorang ksatria justru dikenali dari kemampuannya menanggalkan “baju besi” ketika kepentingan bersama memanggilnya.

Ketawadlu’an Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, menerima keputusan PBNU dengan kalimat sederhana, “Pasrah dengan keputusan PBNU,” menyimpan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar sikap politik.

Di tengah suasana ketika banyak orang menunggu manuver, perlawanan, atau deklarasi, justru yang lahir adalah ketundukan dan ketawadlu’an atas keputusan jam’iyah.

Dalam kaidah fikih dikenal prinsip, “Hukmul Hukama yarfaul Khilaf”.
Keputusan pemimpin mengakhiri perbedaan pendapat pada perkara yang bersifat ijtihadi.

Kaidah ini tidak berarti semua orang harus kehilangan pendapatnya. Tetapi setelah keputusan organisasi diambil melalui mekanisme yang sah, menjaga persatuan lebih utama daripada mempertahankan ego.
Inilah adab yang sejak dahulu hidup di lingkungan pesantren.

Tambakberas Bukan Arena, Tetapi Mihrab

Mengapa banyak pihak akhirnya merasa lega ketika Tambakberas dipilih?
Karena Tambakberas bukan sekadar tempat menyelenggarakan Muktamar.
Ia adalah ruang sejarah, di tempat inilah Mbah Wahab mengajarkan bahwa NU tidak dibangun hanya dengan argumentasi, tetapi juga dengan ketulusan.

Dalam perjalanan NU, perbedaan bukan hal baru. Muktamar demi muktamar selalu menghadirkan dinamika. Namun para kiai terdahulu memahami satu hal, organisasi boleh berdebat keras sebelum keputusan diambil, tetapi setelah keputusan lahir, yang dijaga adalah persaudaraan dan persatuan.

Satu Kaidah usul fikih yang selalu dipegang oleh para ulama, yakni “Dar’ul mafasid muqoddamu ala jalbil Masholih”. Mencegah kerusakan didahulukan daripada mengejar kemaslahatan. Di sinilah kebijaksanaan para ulama bekerja.

Pelajaran dari Mbah Wahab

Sejarah mencatat bahwa KH Abdul Wahab Chasbullah berkali-kali menjadi jembatan ketika muncul perbedaan pandangan di tubuh NU. Beliau memahami bahwa organisasi sebesar NU tidak mungkin steril dari perbedaan.

Yang membedakan organisasi besar dengan organisasi kecil bukan ada atau tidaknya konflik. Melainkan kemampuan menyelesaikan konflik dengan adab. Mbah Wahab tidak pernah mengajarkan santri untuk memenangkan ego. Beliau mengajarkan memenangkan maslahat.
Karena itu, dalam banyak momentum penting, beliau lebih memilih menjaga rumah besar NU daripada memperbesar kemenangan pribadi. Sikap seperti inilah yang menjadikan beliau dikenang bukan hanya sebagai pendiri, tetapi juga sebagai pemersatu.

Santri dan Kelapangan Dada

Ada satu pelajaran yang hanya dipahami oleh santri. Santri boleh memiliki pendapat. Santri boleh memiliki harapan. Tetapi ketika kiai telah memutuskan, adab mengajarkan untuk menerima dengan lapang dada, selama keputusan itu berada dalam koridor syariat dan kemaslahatan.
Bukan karena santri kehilangan akal. Melainkan karena ia percaya bahwa keberkahan sering kali lahir dari adab sebelum ilmu.

Bukan tanpa dasar, tapi dalam Al-Qur’an telah disebutkan bahwa “Faida Azamta Fatawakkal Alalloh”.
“Apabila engkau telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159). Tawakal bukan berarti berhenti berikhtiar. Tetapi menerima hasil musyawarah dengan hati yang lapang setelah ikhtiar dilakukan.

Tambakberas, Tempat Kembali

Mengapa Tambakberas terasa istimewa? Karena setiap organisasi memerlukan tempat untuk mengingat kembali siapa dirinya. Seperti sungai yang akhirnya bermuara ke laut. Seperti pohon yang tetap hidup karena akarnya. Seperti anak yang selalu merindukan rumah orang tuanya.

Begitu pula NU. Tambakberas mengingatkan bahwa organisasi ini lahir dari kesederhanaan para kiai, bukan dari kemegahan panggung. Lahir dari musyawarah, bukan dari permusuhan. Lahir dari keikhlasan, bukan dari ambisi. Mungkin karena itulah banyak Nahdliyin akhirnya menerima keputusan tersebut dengan lega. Bukan karena semua keinginannya terpenuhi. Tetapi karena mereka merasa sedang dipanggil pulang. Pulang kepada nilai-nilai Mbah Hasyim. Pulang kepada kebijaksanaan Mbah Wahab. Pulang kepada adab pesantren.

Akhirnya, muktamar ke-35 bukan hanya tentang memilih pemimpin baru atau melanjutkan kepemimpinan yang ada. Lebih dari itu, ia adalah momentum menguji apakah NU masih setia pada warisan para muassis. Warisan itu bukan sekadar bangunan pesantren atau dokumen organisasi. Warisan terbesar para pendiri NU adalah akhlak dalam mengelola perbedaan. Berbeda sebelum keputusan adalah keniscayaan. Bersatu setelah keputusan adalah kedewasaan.

Maka ketika Tambakberas menjadi tuan rumah Muktamar, sesungguhnya yang dipanggil bukan hanya para peserta Muktamar. Yang dipanggil adalah hati setiap Nahdliyin untuk kembali kepada rumah besar yang dibangun dengan ilmu, adab, dan ketulusan. Sebab di atas segala perbedaan pilihan, NU tetap memiliki tempat untuk kembali, yakni Tambakberas Jombang.

Penulis: HUSNUL HAKIM SY, MH., Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Malang danDekan FISIP UNIRA Malang

Ikuti GOOGLE NEWS atau Join Channel TELEGRAM

Pos terkait