KALBAR SATU ID, TERKINI – Program Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali melahirkan doktor baru yang berkualitas. Sri Wahyuni, S.Pd.I., M.Pd.I., sukses meraih gelar Doktor pada Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Multikultural dengan predikat “Dengan Pujian” (Cumlaude) dalam Ujian Promosi Doktor Terbuka yang digelar di Gedung PPs UNISMA Malang, Senin (13/7/2026).
Sri Wahyuni berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Menciptakan Hidup Harmoni melalui Pendidikan Karakter Bangsa Perspektif Pendidikan Islam Multikultural di Universitas Tanjungpura”. Riset ini lahir dari kegelisahan akademik terhadap fenomena konflik horizontal dan intoleransi, menjadikan Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak sebagai lokus penelitian karena perannya sebagai miniatur masyarakat multikultural Kalimantan Barat.
Sidang promosi doktor ini dipimpin langsung oleh Prof. H.M. Djunaidi Mistar, Ph.D., M.Pd. selaku Ketua Sidang. Formasi dewan penguji diisi oleh sederet akademisi ternama, di antaranya Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si. selaku Promotor, Prof. H. M. Mas’ud Said, MM., Ph.D. selaku Co-Promotor/Sekretaris Sidang, serta para penguji ahli yakni Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, MA., Prof. Dr. H. Nursyam, M.Si., dan Dr. M. Afifulloh, M.Pd.I. Turut hadir secara khusus dari Kalimantan Barat sebagai Penguji Eksternal, Wakil Rektor III IAIN Pontianak, Prof. Dr. Ismail Ruslan, M.Si.
Dalam paparannya, Promovenda Sri Wahyuni mengungkapkan temuan unik terkait pendidikan karakter di Untan. “Pembinaan karakter di sana tidak hanya teori, melainkan terwujud dalam ‘Keluarga Pendekar’ (Pendidikan Karakter). Mahasiswa lintas fakultas, bahkan lintas agama (Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu), tergabung dalam komunitas-komunitas kecil yang saling berdialog dan belajar bertoleransi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menawarkan kebaruan (novelty) berupa penyempurnaan dari teori karakter Thomas Lickona (moral knowing, moral feeling, moral action) dengan mengintegrasikan nilai-nilai tauhid dan akhlak Islam. Hal ini dinilai relevan dalam menangkal ancaman radikalisme dan memperkuat sikap toleran di lingkungan perguruan tinggi.
Dewan penguji memberikan apresiasi tinggi terhadap hasil riset tersebut. Prof. Dr. H. Imam Suprayogo menyoroti kekhasan penanaman toleransi di Untan yang dikenal dengan istilah “Pancasila Bertawaf”, yang kental akan nuansa moderasi beragama berbasis kearifan lokal. Sementara itu, Prof. Dr. Ismail Ruslan berharap model pendidikan ini kelak dapat dideseminasikan lebih luas untuk meredam potensi konflik antar-etnis di tengah masyarakat Kalimantan Barat.
Setelah melalui pendalaman yang komprehensif dari para dewan penguji, Ketua Sidang membacakan keputusan penetapan kelulusan. “Saudari Sri Wahyuni dinyatakan lulus dengan nilai A, berpredikat Dengan Pujian. Saudari merupakan doktor ke-160 yang diluluskan oleh Pascasarjana UNISMA,” tegas Prof. Djunaidi Mistar.
Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si. selaku promotor turut menyampaikan rasa bangganya atas capaian ini, mengingat Sri Wahyuni yang saat ini berstatus sebagai Tenaga Kependidikan (Tendik) memiliki motivasi belajar luar biasa dan diharapkan segera bertransformasi menjadi dosen tetap.
“Ini bukan sekadar akhir, tapi awal dari perjalanan akademik dan pengabdian bagi Sri Wahyuni,” tambah Prof. Mas’ud Said menutup sesi wejangan.
Sidang ditutup dengan suasana haru. Dalam sambutannya, Sri Wahyuni mengucapkan rasa syukur yang mendalam atas bimbingan para profesor yang layaknya orang tua ideologis baginya, serta dukungan penuh dari suami, anak-anak, dan keluarga besarnya.






