KALBAR SATU ID – Pemerintah Kota Pontianak bersama Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Penguatan Moderasi Beragama dan Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal” di Aula Sultan Syarif Abdurahman, Kantor Walikota Pontianak, Rabu (16/9/2026).
Acara yang dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai unsur ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan Pontianak dan Kalimantan Barat sebagai barometer kerukunan umat beragama di Indonesia.
Seminar nasional ini menghadirkan sejumlah tokoh penting dan pakar berpengalaman di bidangnya. Bertindak sebagai keynote speaker adalah Walikota Pontianak, Ir. H. Edi Rusdi Kamtono, M.M., M.T., bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Dr. H. Muhajirin Yanis, M.Pd.I.
Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan para narasumber utama yang berkompeten, yakni Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag., tokoh pendidikan terkemuka Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, serta Direktur Pascasarjana UNISMA, Prof. H. M. Mas’ud Sa’id, M.M., Ph.D.
Pontianak: Rumah Harmoni dan Keberagaman
Dalam pemaparannya, Walikota Pontianak Ir.
H. Edi Rusdi Kamtono, M.M., M.T. menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas terselenggaranya seminar nasional tersebut. Ia memaparkan bahwa dengan luas wilayah sekitar 11,2 kilometer persegi dan populasi mendekati 700.000 jiwa, Pontianak dihuni oleh masyarakat yang sangat heterogen dari sisi suku dan agama.
“Mayoritas penduduk Pontianak memeluk agama Islam (sekitar 78%), diikuti oleh penganut agama Katolik, Protestan, Buddha, Konghucu, serta aliran kepercayaan. Kehidupan beragama di Pontianak sudah sangat rukun sejak dulu. Kita bahkan memiliki ‘Kampung Moderasi Beragama’ di mana jarak antara gereja dan masjid berada di bawah 100 meter dan hidup berdampingan secara harmonis,” ujar Edi Kamtono.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini kerap datang dari dinamika perbedaan suku serta suhu politik menjelang pemilu/pilkada yang berpotensi memicu gesekan. Oleh karena itu, momentum seminar nasional ini dinilai sangat strategis untuk merumuskan langkah-langkah konkret dalam menjaga persatuan bangsa.
UNISMA Dorong Energi Baru untuk Persatuan Indonesia.
Sementara itu, Prof. H. M. Mas’ud Sa’id, M.M., Ph.D. memuji ketahanan sosial dan kerukunan masyarakat Kalimantan Barat yang dinilai luar biasa.
Ia menyebut Indonesia tetap menjadi salah satu barometer perdamaian dunia berkat komitmen kuat warganya dalam merawat nilai-nilai kebhinekaan, layaknya tokoh-tokoh besar perdamaian dunia seperti Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, hingga K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi dengan tingkat kemajemukan yang luar biasa. Jika Kalimantan Barat damai, maka Indonesia dan Asia akan damai,” ungkap Prof. Mas’ud.
Ia juga menambahkan bahwa saat ini sudah lebih dari 15 aparatur dan akademisi dari Pontianak yang telah menyelesaikan studi doktoral (S3) di UNISMA, yang diharapkan menjadi “energi baru” bagi kemajuan daerah.
Kakanwil Kemenag Kalbar, Dr. H. Muhajirin Yanis, M.Pd.I., turut menyambut baik sinergi ini. Ia mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran para guru besar dan akademisi UNISMA yang membimbing banyak pegawai Kementerian Agama maupun masyarakat Kalbar untuk memperluas wawasan keilmuan dan memperkuat moderasi beragama di bumi Khatulistiwa.
Penandatanganan MoU, Peluncuran Buku, hingga Pengukuhan Alumni
Rangkaian acara seminar juga diisi dengan penandatanganan Nota Kesepakatan (Memorandum of Understanding) antara Walikota Pontianak dan pihak Universitas Islam Malang untuk memperkuat kerja sama kelembagaan di bidang pendidikan dan sosial keagamaan.
Selain itu, kegiatan ini dirangkai dengan peluncuran buku berbasis disertasi penguatan moderasi beragama, penyambutan mahasiswa baru program doktor UNISMA, serta pengukuhan Pengurus Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNISMA Provinsi Kalimantan Barat periode 2026–2030.







