Fasilitator COMPASS Dorong Penguatan Karakter Siswa SMKS Pancasila untuk Hadapi Masa Depan

Fasilitator COMPASS Dorong Penguatan Karakter Siswa SMKS Pancasila untuk Hadapi Masa Depan
Fasilitator COMPASS Dorong Penguatan Karakter Siswa SMKS Pancasila untuk Hadapi Masa Depan. Foto/istimewa.

KALBAR SATU ID – Wardatul Himmah Asy’ari, salah seorang fasilitator kegiatan COMPASS, menaruh harapan agar peserta nantinya tidak hanya pulang dengan pengetahuan baru, tetapi juga membawa komitmen perubahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami tidak berharap perubahan besar terjadi hanya dalam satu pelatihan. Namun, apabila seorang siswa mulai lebih jujur, lebih mampu mengendalikan emosinya, lebih menghargai orang lain, atau lebih bijak menggunakan media sosial, itu sudah menjadi langkah bermakna menuju pembentukan karakter,” ungkap Wardatul dalam pernyataannya, Minggu (18/10/26).

Bacaan Lainnya

Harapan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak selalu harus ditandai oleh perubahan yang dramatis. Justru, perubahan sederhana yang dilakukan dengan kesadaran dan konsistensi dapat menjadi fondasi bagi terbentuknya kebiasaan positif dalam jangka panjang.

Seorang siswa yang sebelumnya mudah terpancing emosi, misalnya, dapat mulai belajar menunda respons ketika menghadapi persoalan. Siswa yang terbiasa mengikuti pendapat teman tanpa pertimbangan dapat mulai berani menentukan pilihan berdasarkan nilai yang diyakininya. Demikian pula siswa yang aktif menggunakan media sosial dapat mulai membiasakan diri memeriksa informasi sebelum membagikannya.

Perubahan semacam itu mungkin terlihat kecil. Namun, dalam kehidupan sosial dan profesional, kemampuan mengendalikan diri, menjaga kejujuran, serta menghormati orang lain merupakan bagian penting dari pembentukan kepercayaan.

Bagi siswa SMK, kepercayaan memiliki arti yang tidak sederhana. Ketika kelak bekerja, mereka akan berhadapan dengan tanggung jawab terhadap pekerjaan, rekan kerja, pimpinan, pelanggan, maupun masyarakat. Kualitas hubungan tersebut tidak hanya ditentukan oleh kecakapan bekerja, tetapi juga oleh karakter yang ditunjukkan secara konsisten.

Oleh karena itu, ketujuh dimensi COMPASS, yakni Cerdas Mengenali Diri, Otentik dan Berintegritas, Mandiri Mengelola Emosi, Peduli dan Kolaboratif, Adaptif di Era Digital, Santun dalam Pergaulan, serta Siap Jadi Inspirasi, diarahkan menjadi bekal yang saling melengkapi.

Pada akhirnya, salah satu pesan penting yang hendak dibangun melalui COMPASS adalah kesadaran bahwa kepemimpinan tidak selalu harus dimulai dari kemampuan memimpin orang lain.

Bagi siswa SMKS Pancasila yang sedang mempersiapkan masa depan, kepemimpinan pertama-tama dapat dimaknai sebagai kemampuan mengatur kehidupan pribadi, mengendalikan perilaku, menjaga komitmen, dan mempertanggungjawabkan pilihan yang diambil.

Seorang siswa yang mampu membagi waktu antara belajar dan aktivitas pribadi sedang belajar memimpin dirinya. Siswa yang berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya sedang membangun integritas. Begitu pula mereka yang mampu menolak ajakan negatif, menghargai perbedaan, dan tetap santun ketika menghadapi konflik.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika siswa meninggalkan lingkungan sekolah dan memasuki kehidupan yang memberikan ruang kebebasan sekaligus tanggung jawab lebih besar.

Di perguruan tinggi, mereka akan dituntut membuat keputusan secara lebih mandiri. Di dunia kerja, mereka akan menghadapi target, tekanan, persaingan, serta hubungan profesional yang beragam.

Sementara di tengah masyarakat, mereka diharapkan mampu menjadi pribadi yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Dalam seluruh situasi tersebut, karakter merupakan bekal yang terus dibutuhkan.
Itulah sebabnya pemilihan SMKS Pancasila sebagai sasaran COMPASS dapat dimaknai lebih dari sekadar penentuan lokasi pengabdian.

Sekolah ini menjadi ruang yang relevan untuk mempertemukan pendidikan kejuruan, nilai-nilai keislaman, dan kebutuhan penguatan karakter generasi muda yang sedang bersiap menghadapi masa depan.

Melalui proses pematangan kegiatan yang terus dilakukan, para fasilitator berharap COMPASS dapat menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya bermakna selama pelatihan berlangsung, tetapi juga dapat diteruskan dalam bentuk perilaku nyata setelah peserta kembali pada aktivitas kesehariannya.

Sebab, masa depan tidak cukup disongsong dengan keterampilan semata. Generasi muda juga membutuhkan kompas moral agar mengetahui ke mana harus melangkah, bagaimana memperlakukan sesama, dan keputusan apa yang patut diambil ketika menghadapi berbagai pilihan hidup.

Menjadi siap kerja memang penting. Melanjutkan pendidikan setinggi mungkin juga merupakan cita-cita yang patut diperjuangkan. Namun, keduanya akan memiliki makna yang lebih utuh apabila disertai akhlak, integritas, kepedulian, dan kemampuan memimpin diri sendiri.

Karena pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika seorang siswa siap memasuki dunia kerja, melainkan juga ketika ia siap menjalani kehidupan sebagai manusia yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama.

Ikuti GOOGLE NEWS atau Join Channel TELEGRAM

Pos terkait