KALBAR SATU ID – Penyakit hantavirus kembali menjadi perhatian di Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat. Direktur RSUD Tuan Besar Syarif Idrus (TBSI) Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, dr. Asep Ahmad Saefullah, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit yang ditularkan melalui tikus tersebut.
Saat ditemui pada Rabu (13/5/2026), Asep menjelaskan bahwa hantavirus menular melalui udara yang terkontaminasi kotoran, urine, maupun air liur tikus yang mengering. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tercatat 23 kasus konfirmasi HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome) di 9 provinsi sejak tahun 2024 hingga Mei 2026.
“Penularan hantavirus umumnya terjadi karena menghirup partikel dari kotoran atau urine tikus yang mengering. Karena itu, masyarakat harus lebih memperhatikan kebersihan lingkungan dan mengurangi kontak dengan area yang banyak tikus,” ujar Asep.
Ia menyebut kelompok yang paling rentan terpapar di antaranya pekerja lapangan seperti petani, pekerja gudang, petugas kebersihan, penghuni kawasan dengan sanitasi buruk, wisatawan alam, hingga anak-anak yang sering bermain di area terkontaminasi.
Menurutnya, hingga saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk hantavirus sehingga langkah pencegahan menjadi hal paling penting. Masyarakat diimbau menyimpan makanan dalam wadah tertutup, rutin membuang sampah, serta menutup lubang di rumah yang berpotensi menjadi akses tikus masuk.
Selain itu, Asep juga mengingatkan masyarakat agar tidak membersihkan area terkontaminasi dengan cara disapu kering atau menggunakan vacuum cleaner karena dapat menerbangkan virus ke udara. Area tertutup sebaiknya terlebih dahulu diberi ventilasi dan disemprot disinfektan sebelum dibersihkan.
“Jangan panik, karena kasus hantavirus di Indonesia masih tergolong jarang dan penularan antar manusia sangat langka. Namun masyarakat tetap harus waspada, terutama jika mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, mual, hingga sesak napas setelah kontak dengan lingkungan yang banyak tikus,” katanya.
Ia menambahkan, masyarakat diminta tidak melakukan diagnosis sendiri karena gejala hantavirus mirip dengan dengue, leptospirosis, maupun pneumonia berat. Pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.
“Intinya waspada itu penting, tetapi panik tidak membantu. Lingkungan yang bersih dan bebas tikus menjadi benteng pertahanan utama untuk mencegah hantavirus,” tutupnya.

