KALBAR SATU ID – Kemarau panjang tak hanya berdampak kebakaran hutan dan lahan, tapi juga membuat warga Kubu Raya berjibaku mendapatkan air. Kekeringan juga menyedot sebagian besar energi pemerintah kabupaten yang harus membagi perhatian antara penanganan bencana dengan pelayanan publik dan pembangunan daerah. Bupati Kubu Raya Sujiwo mengungkapkan, sekitar 60 persen fokus pemerintah daerah saat ini terserap untuk menangani persoalan dampak kekeringan, sementara 40 persen lainnya untuk mengurus berbagai pekerjaan pemerintahan dan kebutuhan masyarakat.
“Kita 60 persen fokus di masalah bencana kekeringan dan 40 persennya baru ngurus yang lainnya, infrastruktur, kesehatan, pendidikan, perikanan, pertanian, dan sebagainya,” kata Bupati Sujiwo usai mengikuti salat istisqa di halaman Kantor Bupati Kubu Raya, Rabu (9/9/2026).
Menurut Sujiwo, kondisi tersebut cukup menghambat pelaksanaan berbagai agenda pembangunan daerah, pemerintahan, dan kemasyarakatan. Sebab, persoalan yang harus ditangani pemerintah daerah tidak hanya berkaitan dengan bencana kekeringan.
“Ini cukup menghambat. Karena kan enggak mungkin kita ini hanya mau ngurus ini terus. Sementara urusan rakyat ini banyak, macam-macam,” ujarnya.
Sujiwo menyadari masyarakat membutuhkan kehadiran pemerintah dalam berbagai persoalan. Namun, dalam kondisi darurat seperti saat ini, penanganan karhutla dan krisis air tidak dapat ditinggalkan. Di sisi lain, ia meminta seluruh pihak menahan diri dan tidak saling menyalahkan. Menurutnya, pemerintah daerah bersama TNI, Polri, petugas, relawan, pihak swasta, maupun elemen-elemen masyarakat telah berupaya maksimal menghadapi dampak kemarau.
“Bukan waktunya lagi untuk saling menyalahkan dan memojokkan. Kalau upaya pemerintah bersama TNI, Polri, rasanya sudah maksimal sekali. Sama pihak-pihak swasta juga luar biasa,” tuturnya.
Ia menilai kesabaran merupakan kunci dalam menyikapi kondisi sulit saat ini. Mengutip tokoh kedokteran dunia Ibnu Sina, Sujiwo mengingatkan pentingnya ketenangan ketika menghadapi persoalan.
“Kepanikan itu adalah separuh dari penyakit. Kemudian kesabaran itu separuh dari obat. Ketenangan awal dari kesembuhan. Nah, makanya kita harus tenang,” tuturnya berpesan.
Sujiwo mengakui persoalan air minum kini menjadi salah satu kekhawatiran terbesar masyarakat. Kendati demikian, pemerintah kabupaten memastikan pasokan air minum masih relatif aman sampai beberapa waktu ke depan. Menurutnya, pemerintah tidak akan berhenti bergerak sampai hujan benar-benar turun dan kondisi kembali normal. Ikhtiar melalui distribusi air, pencarian sumber air, pengerahan armada, hingga doa bersama terus dilakukan secara simultan. Setelah langkah teknis, pemerintah dan masyarakat Kubu Raya menggantungkan harapan kepada yang di langit.
“Mohon doa seluruh masyarakat Kabupaten Kubu Raya agar kiranya Allah segera turunkan hujan untuk menolong kita,” ajak Sujiwo.







