KALBAR SATU ID – Jombang, diakhir Agustus 2026 menjadi sentral perhatian jutaan jamaah NU dan Ribuan muktamirin yang memadati Tambakberas, mulai dari kiai sepuh, santri, pengurus wilayah, kader, dan warga kampung yang datang untuk memeriahkan Muktamar NU ke 35. Di tengah keramaian itu, Ahlul Halli wal Aqdi membacakan satu keputusan yang mengubah arah kepemimpinan PBNU lima tahun ke depan, KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU.
Ada satu hal yang mudah terlewat di tengah hiruk-pikuk berita itu, NU baru saja merayakan seratus tahun usianya, dan pemilihan kepemimpinan barunya kembali berlangsung tidak jauh dari tanah tempat organisasi ini pertama kali menemukan bentuknya, yakni kawasan Jombang tepatnya di Tebuireng, tempat Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren yang kelak menjadi salah satu rahim penting kelahiran NU.
Sejarah kadang tidak bergerak lurus. Dia lebih mirip lingkaran yang sesekali membawa sebuah organisasi kembali ke tempatnya menemukan bentuk pertamanya. Apakah kembalinya momentum penting NU ke tanah Jombang, persis ketika organisasi ini memasuki abad keduanya, atau hanya kebetulan sejarah? Bagi sebagian orang, boleh jadi memang hanya kebetulan. Tetapi bagi mereka yang membaca sejarah dengan rasa, kemiripan semacam ini terasa seperti isyarat, bukan isyarat langit yang perlu dibuktikan secara teologis, melainkan isyarat dalam pengertian sastra, yakni pengingat bahwa titik awal dan titik keberangkatan kadang berdiri di tanah yang sama.
Tebuireng: Bukan Titik Berhenti, tapi Titik Berangkat
Tebuireng bukan sekadar nama pesantren dalam sejarah NU. Dari sanalah tradisi keilmuan, jaringan ulama, dan cara pandang keislaman yang kelak menjadi fondasi jam’iyyah ini dirawat dan disebarkan. Tetapi kembali ke Tebuireng, sebagaimana yang secara simbolik terjadi hari ini, tidak boleh dibaca sebagai ajakan untuk kembali hidup di masa lalu. Namun kembali kepada fondasi berarti kembali kepada tradisi keilmuan, etika kepemimpinan, dan khidmah, lalu dari sana melangkah maju, bukan berhenti dan menoleh ke belakang.
Ada satu prinsip yang layak dipegang di sini yaknitradisi sebagai sumber daya untuk beradaptasi, bukan lawan dari perubahan. Organisasi yang sehat bukan organisasi yang membuang masa lalunya ketika dunia berubah, melainkan organisasi yang mampu menggunakan masa lalunya sebagai modal untuk membaca masa depan.
Hasan Gipo dan Gus Kikin: Kemiripan yang Menggoda
Di sinilah kemiripan sejarah yang menggoda untuk direnungkan. Pada Muktamar pertama NU tahun 1926 di Surabaya, sosok yang dipilih mendampingi KH Hasyim Asy’ari sebagai Ketua Tanfidziyah pertama bukan seorang kiai berjubah dengan pesantren besar, melainkan Hasan Gipo, seorang saudagar dari keluarga Sagipoddin, Ampel, Surabaya, yang menguasai ilmu agama sekaligus pendidikan umum ala Belanda, piawai berdiplomasi, dan rela mengorbankan sebagian besar hartanya untuk membiayai muktamar-muktamar NU pada masa-masa awal yang penuh keterbatasan.
Seratus tahun kemudian, PBNU kembali dipimpin sosok yang membawa jejak dunia usaha, yakni terpilihnya Gus Kikin,cicit pendiri NU, dimana sebelum sepenuhnya mengabdi di pesantren dan NU, sempat menempuh pendidikan pelayaran dan meniti karier di dunia bisnis dan sebagai pengusaha, sebelum akhirnya meneruskan estafet kepemimpinan Tebuireng sebagai pengasuh pesantren.
Apakah ini hanya kebetulan? Barangkali. Tetapi kalau sejarah boleh dibaca dengan rasa, kemiripan ini seperti kedipan kecil dari masa lalu kepada masa kini.
Yang perlu segera ditegaskan, kemiripan itu berhenti pada latar belakang, tidak pada zaman yang dihadapi. Hasan Gipo hidup di bawah kolonialisme, di tengah masyarakat yang bergerak lambat karena keterbatasan transportasi dan komunikasi, ketika tantangan terbesar NU adalah mengonsolidasikan ulama dan menjaga tradisi keagamaan dari ancaman yang datang dari luar. Sementara Gus Kikin memimpin NU di republik yang sudah merdeka delapan dekade, di tengah kapitalisme global, ekonomi digital, kecerdasan buatan, media sosial yang membentuk opini dalam hitungan menit, dan generasi muda yang mencari otoritas keagamaan lewat algoritma, bukan lagi semata lewat sanad dan majelis pengajian.
Jangan Terjebak Romantisme
Justru di titik inilah godaan terbesar bisa muncul, menjadikan Tebuireng sekadar monumen, dan Hasan Gipo sekadar nama yang dikutip dalam pidato-pidato seremonial. Tebuireng bukan museum. Tradisi bukan ornamen yang cukup dipajang untuk memberi kesan otentik.
Pertanyaan yang lebih jujur untuk diajukan adalah seandainya para pendiri NU hidup hari ini, apa yang akan mereka lakukan menghadapi TikTok, kecerdasan buatan, ekonomi digital, perubahan geopolitik, krisis iklim, dan generasi yang belajar agama lewat potongan video pendek? Jawabannya mungkin bukan pada metode yang mereka pakai, sebab metode itu lahir dari kondisi zamannya sendiri, melainkan pada satu kemampuan yang mereka miliki secara konsisten yakni kemampuan membaca zamannya sendiri dengan jernih, lalu berani mengorganisasikan jawaban atasnya. Penghormatan terbaik kepada para pendiri bukan mengulang cara mereka bekerja, melainkan mengulang keberanian mereka membaca perubahan.
Satu Abad, Dua Medan Perjuangan yang Berbeda
Kalau dulu musuh terbesar NU adalah kolonialisme dan ancaman terhadap eksistensi tradisi keagamaan, hari ini tantangannya jauh lebih cair dan sulit dipegang yaitu banjir informasi, algoritma yang membentuk opini publik, ketimpangan ekonomi, fragmentasi sosial, krisis otoritas keagamaan, serta risiko organisasi besar yang gagap beradaptasi. Maka pertanyaan mendasarnya adalah apakah model kepemimpinan organisasi yang efektif pada abad pertama NU masih cukup untuk menjawab persoalan abad kedua?
Setidaknya ada beberapa medan yang harus segera dijawab oleh Gus Kikin. Pertama, penataan ulang organisasi, kejelasan kewenangan antara PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU hingga ranting, agar koherensi tidak berhenti sebagai slogan. Kedua, transformasi digital yang sesungguhnya, bukan sekadar memindahkan formulir kertas ke aplikasi, melainkan membangun basis data warga NU yang bisa diandalkan. Hari ini NU punya digdaya, apakah ini akan diteruskan oleh Gus Kikin. Ketiga, kaderisasi generasi muda yang memahami bahwa otoritas keagamaan kini juga dipengaruhi viralitas dan algoritma, bukan lagi semata sanad dan kedekatan guru-murid. Keempat, menempatkan pesantren bukan hanya sebagai basis kultural, tetapi sebagai pusat kaderisasi, riset, dan inovasi sosial. Kelima, mendorong perguruan tinggi NU menjadi ruang produksi pengetahuan yang menjembatani tradisi pesantren dengan ilmu modern.
Latar belakang Gus Kikin sebagai pebisnis tentu memberi modal tersendiri, kemampuan membaca risiko, mengambil keputusan, dan berpikir berorientasi hasil. Tetapi ini perlu ditegaskan sejak awal, bahwa NU bukan perusahaan. NU boleh belajar sebagian prinsip profesionalisme dari dunia usaha, tetapi jamaah bukan pelanggan, dan khidmah tidak bisa disamakan dengan target keuntungan. Sumber daya terbesar NU bukan modal finansial, melainkan modal sosial, jaringan kiai, kepercayaan jamaah, dan legitimasi yang terbangun selama satu abad. Modal sosial semacam itu bisa menjadi kekuatan luar biasa jika dikonversi menjadi kolaborasi dan kapasitas organisasi. Tetapi modal sosial yang sama juga bisa berubah menjadi masalah ketika terjebak pada patronase dan perebutan pengaruh antarkelompok.
Ujian Sesungguhnya: Mengubah Budaya, Bukan Sekadar Membuat Program
Tantangan terberat kepemimpinan Gus Kikin barangkali bukan pada hal-hal teknis. Membangun basis data itu teknis. Membuat akun media sosial resmi itu teknis. Tetapi mengubah budaya organisasi agar mau memakai data dalam pengambilan keputusan, mengubah budaya dakwah agar memahami cara kerja algoritma, mengubah budaya NU agar menghargai riset dan produksi pengetahuan, itu semua persoalan adaptif, yang jauh lebih sulit dan memakan waktu jauh lebih panjang dibanding sekadar meluncurkan program baru.
Dan pada akhirnya, ukuran keberhasilan sejati bukan seberapa banyak program yang dijalankan selama lima tahun ke depan, melainkan apakah Gus Kikin berhasil membangun sistem yang tetap bekerja setelah masa jabatannya berakhir, yakni sebuah sistem yang tidak bergantung pada siapa pun yang kebetulan sedang duduk di kursi Ketua Umum.
Memulai Kembali, Bukan Mengulang
Sejarah memulai NU dari Tebuireng adalah masa lalu. Gus Kikin adalah masa kini. Dan abad kedua NU adalah masa depan yang belum ditulis. Yang harus diulang dari sejarah bukan zamannya, zaman Hasan Gipo tidak akan pernah kembali, dan memang tidak perlu kembali. Yang harus diulang adalah keberaniannya, yakni keberanian mengorganisasikan jawaban atas persoalan zaman, bukan sekadar mempertahankan bentuk lama agar tetap terlihat otentik.
Para pendiri NU pada 1926 tidak pernah tahu seperti apa dunia seratus tahun kemudian. Tetapi mereka memiliki keberanian membangun organisasi yang mampu menyeberangi zaman. Kini Gus Kikin menghadapi pertanyaan serupa, hanya dengan tingkat kerumitan yang jauh berbeda, bisakah NU yang lahir dari pesantren di Jombang pada 1926 tetap menjadi kekuatan yang relevan memimpin peradaban setengah abad dari sekarang?
Terpilihnya Gus Kikin bukan akhir dari Muktamar ke-35, dan tentu saja bukan jawaban otomatis atas seluruh persoalan NU. Dia justru pintu masuk bagi ujian yang sesungguhnya, apakah NU mampu mengubah warisan satu abad menjadi energi untuk memimpin setengah abad berikutnya. Kalau Tebuireng adalah tempat NU belajar memulai, maka abad kedua adalah saat NU harus membuktikan bahwa dia tahu caranya melanjutkan.
Penulis: HUSNUL HAKIM SY, MH., Dekan FISIP UNIRA Malang, Wasek PCNU Kab Malang.







