KALBAR SATU ID – Delta Kapuas Project melalui SAMPAN Kalimantan terus memperkuat pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan melalui pengembangan usaha berbasis perhutanan sosial. Komitmen tersebut diwujudkan dengan memfasilitasi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) binaan mengikuti Non-Timber Forest Products (NTFP) Expo 2026 di Plaza Merdeka, Kuching, Sarawak, Malaysia, 31 Juli–9 Agustus 2026.
Keikutsertaan dalam NTFP Expo 2026 tidak hanya menjadi momentum untuk memperkenalkan produk HHBK Kalimantan Barat ke pasar regional dan internasional, tetapi juga menjadi bagian dari kontribusi Delta Kapuas Project dalam aksi mitigasi perubahan iklim. Melalui pengembangan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK), Delta Kapuas Project terus mendorong masyarakat untuk mengembangkan sumber penghidupan yang sejalan dengan prinsip pengelolaan hutan lestari.
Beragam produk KUPS ditampilkan dalam pameran, di antaranya madu kelulut, bajakah, salai pisang,lidah buaya, produk olahan ikan dan udang. Produk tersebut menjadi gambaran pemanfaatan potensi alam secara produktif dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Buka Peluang Pasar Internasional
Sigit Budi Martono, selaku Manajer Bidang Usaha SAMPAN Kalimantan, mengatakan NTFP Expo 2026 memberikan peluang penting bagi produk masyarakat untuk dikenal calon pembeli sekaligus membuka jejaring dengan mitra usaha dari luar Indonesia.
“Pameran seperti NTFP Expo sangat potensial untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka akses dan jaringan pemasaran ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional,” ujar Sigit.
Menurutnya, peluang tersebut terlihat dari respons positif pengunjung selama pameran. Produk-produk KUPS yang dipamerkan berhasil mencatat omzet penjualan sebesar RM3.700 atau sekitar Rp15,54 juta, dengan asumsi kurs RM1 setara Rp4.200. Sejumlah produk bahkan mendapat permintaan tinggi hingga stok madu kelulut, abon ikan, dan amplang habis sebelum kegiatan pameran berakhir.
“Selama kegiatan berlangsung, respons pengunjung cukup positif. Dari produk yang kami bawa, tercatat omzet penjualan sekitar RM3.700 atau kurang lebih Rp15,54 juta. Bahkan, madu kelulut, abon ikan, dan amplang sampai kehabisan stok sebelum acara selesai. Ini menunjukkan adanya minat pasar terhadap produk-produk yang dihasilkan masyarakat,” katanya.
Sigit menilai capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi pengembangan usaha KUPS sekaligus menunjukkan bahwa produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan produk olahan masyarakat memiliki peluang untuk diperluas ke pasar regional.
“Keikutsertaan dalam pameran seperti ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membangun komunikasi dengan calon pembeli, pelaku usaha, maupun pihak lain yang berpotensi menjadi mitra. Respons yang kami terima juga menjadi masukan penting untuk meningkatkan kualitas produk, kapasitas produksi, kemasan, dan strategi pemasaran ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, perluasan pasar tidak hanya penting untuk meningkatkan penjualan, tetapi juga memperkuat keberlanjutan usaha masyarakat. Semakin terbuka akses pasar terhadap produk yang dihasilkan secara lestari, semakin besar pula peluang masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan potensi perhutanan sosial tanpa mengurangi fungsi ekologis kawasan.
Belajar dari Pengembangan Produk di Sarawak
Selain mengikuti expo, Delta Kapuas Project juga memperoleh kesempatan mengikuti kunjungan yang difasilitasi Jawatan Pertanian dan Kehutanan Sarawak.
Dalam kunjungan tersebut, tim melihat sejumlah sentra pengembangan agroforestri, termasuk budidaya nanas dan potensi perkebunan kelapa. Tim juga melihat kegiatan penyadapan nipah serta produksi gula apong yang menjadi salah satu produk khas Sarawak.
Sigit mengatakan pengalaman tersebut memberikan wawasan mengenai pengembangan HHBK dan produk berbasis masyarakat.
“Kunjungan ini memberikan tambahan wawasan bagi kami mengenai pengembangan hasil hutan bukan kayu dan produk berbasis masyarakat. Hal tersebut dapat menjadi referensi untuk pengembangan usaha dan peningkatan kualitas produk KUPS binaan Delta Kapuas Project ke depan,” ujarnya.
Produk Memiliki Daya Tarik Tersendiri
Salah seorang pengunjung asal Malaysia menyampaikan apresiasi terhadap produk yang diperkenalkan dalam pameran.
Menurutnya, produk tersebut memiliki karakter dan cita rasa yang menarik sehingga layak diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Saya berharap teman-teman di luar sana juga dapat mencoba dan menikmati produk yang mereka hasilkan,” ujarnya.
Apresiasi tersebut menjadi dorongan bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.
Dapat Dukungan dari Berbagai Pihak
Keikutsertaan dalam NTFP Expo 2026 juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk kunjungan Kepala Balai Perhutanan Sosial Banjarbaru ke stan produk KUPS.
Melalui penguatan kualitas produk, kelembagaan, kemitraan, dan akses pasar, Delta Kapuas Project berharap semakin banyak produk HHBK Kalimantan Barat mampu menembus pasar internasional sekaligus menjadi bagian dari praktik perhutanan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan daerah secara berkelanjutan.







