KALBARSATU.ID – Hari ini, 02 Mei 2020, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, yang ditetapkan untuk memperingati hari lahirnya tokoh pelopor pendidikan di Indonesia, pahlawan nasional Ki Hadjar Dewantara.
Sebagai aktivis perempuan yang gemar menulis tentang isu-isu perempuan, tentu saya akan menyoroti sisi perempuan dalam kaitannya terhadap dunia pendidikan.
Alam pendidikan yang ditempuh oleh semua jenis manusia, laki-laki dan juga perempuan, dengan proses pendidikan yang setara, akan mampu menciptakan ruang kesetaraan bagi keduanya. Dan perempuan kini telah diberi leluasa untuk mengikuti proses pendidikan ini.
Maka tentu, perempuan sudah harus mampu menaikkan kualitas kehidupan, tak perlu lagi bergantung kepada pasangan, tak lagi harus menikmati status sosial dibalik unggulnya profesi suami. Karena dengan pendidikan perempuan tak akan mau mengekor sebagai penurut lagi, tak akan mau lagi dibodohi, tak mudah lagi termarjinalkan. Justru ia akan menjadi partner yang baik dan setara bagi laki-laki, ia pun bisa berkarir untuk menunjang kebutuhan keluarga dan diri sendiri dan tentunya dapat menjadi insan yang independen-mandiri.
Tidak sedikit laki-laki yang tidak menghendaki perempuan untuk mengeyam setinggi-tingginya alam pendidikan. Selain karena berkeyakinan bahwa pada akhirnya perempuan akan kembali mundur pada dunia domestik (rumah tangga), laki-laki juga merasa tidak nyaman dan tak mau ramah terhadap perempuan yang tekun dalam dunia pendidikan.
Ada semacam kekhawatiran akan terjadi kesejajaran atau bahkan dilampaui status dominannya. Laki-laki bahkan tak mau memiliki pasangan yang jenjang pendidikannya setara atau bahkan lebih tinggi daripada dirinya. Padahal dalam sebuah rumah tangga, pendidikan bagi perempuan bukan untuk merebut dominasi atau menaiki hirarki, namun untuk keberdayaannya sebagai manusia yang setara dengan laki-laki, dan kemudian tercipta hubungan yang bersinergi. Bukan pola hubungan yang berkuasa dan dikuasai.
Apalagi ibu lah yang lekat dengan proses pengasuhan generasi, dalam tahapan memelihara dan mendidik setiap anak perempuan maupun laki-laki. Maka berarti, sudah selayaknya setiap ibu perlu mencerdaskan diri terlebih dahulu dengan berproses aktif dalam alam pendidikan untuk kemudian menciptakan generasi yang cerdas nan membanggakan.
Maka kemudian saya menjadi bersepakat dengan apa yang dinyatakan oleh Dian Sastrowardoyo, “entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang perempuan wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.” Seperti menurut penelitian pula, bahwa setiap anak yang dilahirkan, kecerdasannya diturunkan dari sang ibu (perempuan) bukan dari sang ayah.
Itulah mengapa, perempuan berpendidikan selayaknya dijadikan standar perempuan ideal, yakni perempuan yang menjadi teladan, panutan dan juga sandaran. Agar banyak ditiru oleh kaum perempuan.
Bukan meniru potret perempuan yang terlihat di beragam media, yang tercitra hanya sebentuk fisik atau sebagai daya tarik seksual semata. Atau bahkan perempuan di media sosial yang mencitrakan dirinya sendiri dengan ajang selfie dan pamer diri, tidak dengan membawa inspirasi. Hal yang disebutkan terakhir ini, tak luput dari efek perubahan zaman yang kian berjalan, yakni kemajuan teknologi informasi menggiring perempuan untuk mengabdikan eksistensi pada sosial media belaka. Di mana taraf popularitas diukur dari banyaknya followers, deretan potret ‘alay’ dan tentunya fasih tiktok-an.
Gigih belajar, giat bersosial atau bahkan menginspirasi banyak orang, sudah tak lagi sahih sebagai definisi dari citra perempuan ideal. Para perempuan terdidik yang menjadi pelaku sejarah menjadi tersingkirkan, oleh karena kesibukan perempuan kini dalam berusaha menampilkan diri layaknya selebgram.
Untuk itu, mari meniru tokoh perempuan terdidik yang membawa inspirasi bagi banyak orang dan terus menjadikannya sebagai perempuan yang ideal. selamat Hari Pendidikan Nasional.
Penulis: Putriana, M.Pd.
Aktivis Perempuan

Tinggalkan Balasan