KALBAR SATU, PONTIANAK – Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kering dan kemarau monsunal pada tahun ini diperkirakan berlangsung Juni-September 2026 menjadi momentum untuk memperkuat sinergi penanggulangan.

“Saya meminta kepada seluruh jajaran pemerintah, UPT KPH, serta masyarakat dari tingkat desa hingga provinsi, bersama-sama dengan TNI dan Polri, untuk meningkatkan sinergi dan kerjasama dalam penanggulangan karhutla,” kata Ir. H. Adi Yani, MH, Kepala Dinas Lingkungana Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalbar dalam acara Pembukaan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas SDM Bagi Brigade Dalkarhutla UPT KPH Provinsi Kalimantan Barat Angkatan I, yang dilaksanakan di Hotel Novotel Pontianak, Rabu (3/6/2026).

Acara Bimtek tersebut sepenuhnya didanai Program Result Based Payment (RBP) REDD+ Output 2 Green Climate Fund (GCF) Kalimantan Barat Tahun Anggaran 2026.
Menurutnya, puncak musim kemarau sangat rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Ini adalah peringatan serius yang harus kita respons dengan tindakan nyata, terencana, dan terukur, bukan sekadar reaksi sesaat,” jelasnya.

Kondisi ini lanjut dia, semakin mempertegas bahwa strategi pengendalian karhutla harus diperkuat secara fundamental di tingkat tapak.
Pemprov Kalbar telah membentuk Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) pada 17 UPT KPH di seluruh Kalimantan Barat yang merupakan wujud komitmen kelembagaan untuk memastikan ketersediaan kapasitas pengendalian karhutla secara permanen di setiap wilayah KPH.

“Dan disinilah posisi serta peran bapak dan saudara-saudara sebagai anggota Brigade Dalkarhutla UPT KPH menjadi sangat krusial dan tidak tergantikan,” ingatnya kepada peserta pelatihan.

Secara khusus, Adi Yani menekankan beberapa langkah dalam menghadapi ancaman karhutla yang semakin kompleks, khususnya menjelang musim kemarau 2026, yakni mempersiapkan sumber daya manusia, sarana, dan prasarana penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dalam kondisi prima dan siap dioperasionalkan setiap saat, terutama memasuki musim kemarau.

“Memprioritaskan upaya pencegahan kebakaran dengan melibatkan masyarakat secara aktif melalui sosialisasi, penyadartahuan, dan program pendidikan lingkungan yang berkelanjutan,” kata dia.

Selain itu lanjut dia, bersama seluruh Pemegang Perizinan Berusaha di sektor perkebunan, kehutanan, dan pertambangan, meningkatkan intensitas patroli Brigade Dalkarhutla di wilayah kerja masing-masing.

“Menindaklanjuti secara cepat dan efektif setiap hasil monitoring peringatan dini dan deteksi dini kebakaran hutan dan lahan dengan menggerakkan seluruh potensi sumber daya yang tersedia,” paparnya.

Selanjutnya kata dia, melakukan pemadaman secara efektif dan efisien sejak dini. Padamkan api sesegera mungkin sebelum meluas, dengan memberdayakan seluruh komponen Brigade Dalkarhutla, baik Regu Inti, Regu Perbantuan, maupun Masyarakat Peduli Api (MPA); .

“Melakukan penataan ekosistem gambut dalam Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) di wilayah kerja masing-masing guna menjaga tinggi muka air tanah agar gambut tetap dalam kondisi basah, melalui pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur pembasahan gambut seperti sumur bor, sekat kanal, dan embung air,” jelasnya.

Kemudian lanjut dia, dengan meningkatkan intensitas koordinasi lintas sektor dan lintas instansi, termasuk TNI/Polri, pemerintah desa, kecamatan, kabupaten/kota, Manggala Agni, UPT KPH, lembaga adat, dan seluruh komponen masyarakat setempat.

“Penanganan kebakaran hutan dan lahan saat ini tidak lagi dapat dilakukan dengan pendekatan yang bersifat konvensional dan reaktif. Kita memerlukan langkah-langkah yang lebih sistematis, terencana, berbasis data, serta berkelanjutan,” tukasnya.

Kepala Bidang Perlindungan, Konservasi Sumbefr Daya dan Ekosisten DLHK Kalbar, Hairil Anwar, SHut mengatakan untuk angkatan pertama, peserta bimtek diikuti oleh UPT KPH Mempawah, Bengkayang dan Sambas.

“Masing-masing 10 orang, sehingga total peserta sebanyak 30 orang,” paparnya.

Dalam pelatihan, porsi materi pembelajaran kata dia diisi 70 persen teori melalui pemaparan materi dan diskusi interaktif dalam kelas.

“Praktik Lapangan porsinya 30 persen, berupa simulasi langsung terkait teknik pemadaman, pemeliharaan sekat bakar, pemeliharaan tabat, dan penerapan K3,” imbuhnya.

Menurutnya, narasumber dan instruktur pada kegiatan ini berasal dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) SDM BP2SDM Kementerian Kehutanan, DLHK Kalbar serta Instruktur Lapangan / Lokal dari UPT KPH Wilayah Kubu Raya.

“Jalannya seluruh rangkaian kegiatan ini dipantau langsung oleh tim supervisor dari BP2SDM Kementerian Kehutanan,” pungkasnya.