KALBAR SATU ID – Semangat persaudaraan, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya nusantara terasa begitu kuat dalam pembukaan Pekan Gawai Dayak Kalimantan Barat ke-40 Tahun 2026 yang digelar di Rumah Radakng Pontianak, Rabu (20/5/2026). Kegiatan budaya terbesar masyarakat Dayak di Kalimantan Barat ini turut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat beserta berbagai tokoh adat, pemerintah, dan masyarakat lintas daerah, termasuk tamu dari Serawak, Malaysia.

Tahun ini, Kabupaten Ketapang dipercaya sebagai tuan rumah pelaksana dengan menampilkan kekayaan budaya yang memukau. Acara diawali dengan tarian adat Dayak “Majolang” yang dibawakan Sanggar Seni Borneo Tari Gas, menghadirkan nuansa sakral sekaligus semangat pelestarian budaya leluhur di tengah arus modernisasi.

Ketua panitia, Thomas Aleksander, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang menjadi ruang mempererat persaudaraan masyarakat Dayak sekaligus sarana memperkenalkan budaya daerah kepada generasi muda dan masyarakat luas.

Ketua Sekberkesda Kalbar, E. Yohanes Palansoeka, menegaskan bahwa Gawai Dayak bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan simbol jati diri, persatuan, dan kekuatan budaya masyarakat Dayak Kalimantan Barat. Hal senada juga disampaikan Ketua Adat Dayak Nasional mewakili Presiden Dayak Indonesia yang mengapresiasi kehadiran seluruh undangan sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian budaya nusantara.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat dalam sambutannya mengajak masyarakat Dayak untuk terus adaptif menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, Gawai Dayak tidak hanya identik dengan hiburan dan seremoni budaya, tetapi juga menjadi momentum membangun kualitas sumber daya manusia yang mampu menguasai media dan digitalisasi di era global. Ia berharap Gawai Dayak semakin maju dan menjadi destinasi wisata unggulan Kalimantan Barat.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, secara resmi membuka kegiatan dan menegaskan bahwa Gawai Dayak merupakan milik bersama yang menjadi perekat persatuan di tengah keberagaman. Menurutnya, nilai toleransi, kekeluargaan, dan gotong royong yang hidup dalam budaya Dayak harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Ia juga menekankan bahwa Gawai Dayak memiliki potensi besar dalam mendukung sektor pariwisata dan pertumbuhan ekonomi daerah. Bahkan, diharapkan kegiatan ini dapat masuk dalam Kharisma Event Nusantara sehingga semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Pembukaan Pekan Gawai Dayak ke-40 ditandai dengan pemukulan pentungan dan sumpit balon, simbol semangat persatuan, keberanian, serta komitmen bersama dalam menjaga budaya dan identitas bangsa di tengah perkembangan zaman.